Penyeberangan Labuan Bajo – Sape dengan Kapal ASDP

Selasa, 27 April 2021
Sebelum berangkat Sail Komodo, kita mencari informasi terlebih dahulu mengenai jadwal penyeberangan Labuan Bajo – Sape di pelabuhan. Sampai pelabuhan tidak terlihat petugas yang standby. Yang ada yaitu Pak Polisi. Berdasarkan perhitungan Pak Polisi, kemungkinan Senin ada jadwal penyeberangan.

Kamis, 29 April 2021
Kita menuju kantor pos untuk membeli tiket penyeberangan Labuan Bajo – Sape dengan harga 306.000 untuk 1 motor dan 2 penumpang dengan waktu keberangkatan kapal yang tercetak pada tiket Senin, 3 Mei 2021.

Apabila pada hari Senin nanti kapal tidak berangkat maka tiket tersebut dapat digunakan pada hari Selasa, 4 Mei 2021.

Dalam pembelian tiket ini awalnya petugas kantor pos memberikan informasi bahwa tidak ada tiket kapal karena larangan mudik. Padahal larangan tersebut berlaku mulai tanggal 6 Mei 2021. Setelah petugas menghitung ulang tanggal akhirnya kita dimintai KTP kemudian tiket mulai dicetak.

Minggu, 2 Mei 2021
Sepulang dari Sail Komodo, kita kembali memastikan ulang keberangkatan kapal menuju Sape di pelabuhan sebelum melakukan swab antigen. Ternyata kapal tidak berangkat pada hari Senin namun hari Selasa pukul 09.00. Tiket aman, tetap dapat digunakan pada hari Selasa.

Senin, 3 Mei 2021
Kita melakukan swab antigen di Apotek Agung dengan biaya Rp 200.000,- per orang. Masa berlaku hasil pemeriksaan yaitu 1×24 jam.

Selasa, 4 Mei 2021
Pukul 08.00 kita tiba di pelabuhan. Sebelum masuk ke kapal, calon penumpang diminta untuk menunjukkan rapid test (swab antigen) dan tiket disobek setengah. Kemudian penumpang akan diberi kartu kewaspadaan untuk diisi dan diserahkan di pelabuhan kedatangan.

Saat naik ke tempat duduk penumpang ternyata sudah ramai dan penuh. Tempat duduk besi banyak kosong namun bagian bawahnya digelar tempat tidur sehingga orang lain tidak bisa duduk di kursi yang tersedia.

Beberapa kursi rusak tidak dapat ditegakkan sehingga mengganggu penumpang lain. Kipas angin ada 3 namun yang dapat menyala hanya 2 kipas angin yang ada di sisi kanan dan kiri sehingga terasa panas. 

Kapal yang dijadwalkan berangkat pukul 09.00 WITA baru berangkat pada pukul 10.00 WITA.

Suasana di kapal sangat padat dan tidak teratur. Banyak penumpang tidak menggunakan masker dan tidak ada jarak aman antar penumpang. Hal ini sangat membuat tidak nyaman. Belum lagi, terdapat penumpang yang merokok. Sebelum kapal berangkat, pedagang (yang bukan penumpang) bisa dengan bebas wara wiri di kapal untuk berjualan/mengantar penumpang.

Kapal tiba di Pelabuhan Sape sekitar pukul 17.00. Saat keluar kapal tidak ada pemeriksaan. Kertas kewaspadaan yang diberikan di Pelabuhan Labuan Bajo (pelabuhan keberangkatan) tidak diminta di Pelabuhan Sape (pelabuhan kedatangan).

NOTE

Rincian tiket:

  • 1 penumpang dewasa: 85.500
  • 1 penumpang dewasa & motor: 220.500

Pintu masuk Pelabuhan ASDP samping Starbuck.

 

Open Trip Sail Komodo

Berlibur ke Labuan Bajo tidak lengkap bila belum Sail Komodo mengunjungi pulau-pulau sekitar dan bertemu Komodo. Untuk melakukan hal tersebut terdapat 2 cara yaitu menyewa kapal secara pribadi (private trip) atau ikut open trip yang disediakan oleh agen wisata.

Open trip yang ditawarkan ada one day trip dan bermalam di kapal (3 hari 2 malam). Kita memilih mengikuti open trip 3 hari 2 malam. Open trip hanya tersedia untuk weekend saja. Berangkat Jum’at pagi dan selesai pada Minggu siang.

Biaya open trip 3 hari 2 malam yaitu

  • Kapal dengan kamar mandi dalam
    Kamar sharing Rp 2.500.000,- per orang
    Kamar private Rp 3.500.000,- per orang
  • Kapal dengan kamar mandi diluar
    Kamar sharing Rp 2.250.000,-
    Kamar private 3.250.000,-

Kita memilih kamar sharing dengan kamar mandi dalam, kira-kira begini kondisi kamarnya:

Kamar Sharing

Kekurangan dari kamar ini adalah kamar mandinya kecil/sempit. Agak susah buat ganti di dalam kamar mandi.

Destinasi dalam open trip ini yaitu
Hari 1
Pulau Kanawa

Menawarkan spot snorkling. Di Pulau Kanawa, kita bisa snorkling bersama ikan-ikan. Sebenarnya bisa juga trekking tapi hal tersebut tidak dilakukan dalam trip ini.

Pulau Kelor

Trekking ke puncak pulau. Sampai di puncak, kita bisa melihat pemandangan pulau sekitar dari atas. Jalur trekking termasuk pendek namun sangat curam dan licin.

Kalau tidak ingin trekking, kalian bisa menikmati pantai pulau ini sambil minum kelapa muda. Di Pulau Kelor banyak pedagang menawarkan kelapa muda, pop mie, kopi, dan souvenir. Kelapa muda dibandrol dengan harga Rp 30.000,- per butir.

Saya pun membeli 1 kelapa muda untuk berbuka puasa nanti.

Pulau Kalong
Di Pulau Kalong, kita disuguhi pemandangan kalong beterbangan pukul 18.00 WITA bertepatan saat matahari tenggelam (sunset). Malam sekitar pukul 19.00 juga tampak milky way.

Sepanjang malam pertama trip banyak peserta mengeluhkan kondisi laut yang sangat bergelombang sehingga kapal bergoyang ke kanan dan ke kiri. Di kamar bawah katanya juga berisik suara mesin. Sementara di kamar sharing (lantai atas) suara mesin tidak begitu mengganggu.

Hari 2
Pulau Padar 

Pulau Padar ini sangat populer sebagai tempat untuk berfoto karena memiliki latar yang menawan. Kita mulai trekking di pulau ini sekitar 05.45.

Seharusnya kita bisa menikmati sunrise namun karena tertutup awan apa boleh buat. Kita bisa menikmati pulau yang indah ini dengan tenang.

Di Pulau Padar terdapat komodo namun jarang tampak di area trekking. Selama trekking terdapat petugas yang berjaga di beberapa titik. Hewan yang kita temui selama di pulau ini adalah rusa.

Pink Beach

Selain menawarkan pasir pantai yang berwarna pink, di sekitar pantai ini kita dapat melakukan snorkling. Air di pantai ini terasa dingin berbeda dengan pantai lainnya dan menyegarkan badan.

Pulau Komodo

Di Pulau Komodo, kita trekking dengan jalur medium. Jalur yang tersedia yaitu short, medium, dan long. Untuk yang long ditutup. Kita pun mengambil jalur medium dan bertemu 3 komodo. Salah satu komodo yang kita temui bernama Hercules. Dari ketiga komodo yang kita temui yang aktif bergerak hanya Hercules.

Pada malam kedua, kapal berada di perairan Pulau Komodo dan kondisi laut sangat tenang sehingga banyak yang tertidur dengan nyenyak.

Pulau Komodo selain dihuni Komodo, juga dihuni oleh komunitas nelayan muslim. Di perairan ini, adzan dan lantunan ayat suci Al-Qur’an setelah tarawih dari Pulau Komodo terdengar sampai ke kapal.

Hari 3
Taka Makassar
Adalah pasir timbul yang terjadi saat kondisi air laut surut. Kondisi pasir pantai di Taka Makassar tajam.

Manta point
Spot snorkling bersama manta. Dari kapal, kita sudah dapat melihat manta besar dan terkadang juga melompat. Manta berada di perairan yang berarus. Saya yang tidak bisa berenang cukup kualahan untuk bergerak sehingga memilih untuk berada diatas kapal.

Pulau Siaba
Menawarkan spot snorkling berupa karang yang cantik. Katanya Pulau Siaba adalah spot terbaik untuk snorkling dibandingkan dengan spot lainnya. Saya tidak bisa membandingkan karena nggak ikut snorkling.Dalam penawaran hari pertama terdapat spot snorkling di Manjarite tapi saat trip tidak ada. Pulau Siaba tidak masuk dalam penawaran trip namun ada.

Selama trip ini, hanya kita berdua peserta yang berpuasa. Sahur disediakan oleh kapal berupa mie goreng, telur dadar, dan nasi. Beberapa crew kapal khususnya bagian masak juga ikut sahur sehingga aman. Di sahur pertama, kita harus membangunkan crew.

Dalam trip ini beberapa spot, terasa kurang nyaman karena ramai oleh peserta trip dari beberapa kapal lainnya. Mungkin efek selama overland Flores selalu sepi. Giliran open trip ramai orang. Mungkin kalau ambil private trip saat weekdays enak kali ya. Semoga nanti~

Apa saja yang termasuk dalam open trip?

  • Welcome drink setelah memasuki kapal
  • Tiket masuk ke tempat wisata
  • Makan 3x sehari (pagi, siang, malam)
    Kalau puasa mendapat sahur dan berbuka bersamaan dengan makan malam. Makan malam selalu komplit lauknya. Di hari pertama ada udang goreng, ada cumi asam manis. Di hari kedua rendang dan ikan bakar. Plus buah dan sayur.
  • Kopi, teh, dan air mineral. Ada dispenser untuk air panas.
  • Dokumentasi yang diambil menggunakan kamera mirrorless, gopro, dan drone.

Kamar sharing lumayan nyaman. Ber-AC dingin, tersedia handuk, tissue, bantal, dan selimut. Satu kapal berisi 12 orang dengan 1 kamar sharing di lantai atas dan 4 kamar private di lantai bawah.

Teman-teman 1 kapal kita juga asyik dan hobi traveling. Semua sudah sampai kemana-mana baik dalam maupun luar negeri jadi saling bertukar cerita dan informasi.

Kita mengikuti open trip Sail Komodo 3 malam 2 hari, setelah hampir 2 minggu overland keliling Flores ke Ruteng, Riung, Ende, Maumere, dan Larantuka.

 

Trekking Berkunjung ke Wae Rebo di Bulan Puasa

Tak terasa puasa telah memasuki hari ke-12 dan kita sampai di Desa Dintor yang menjadi gerbang masuk ke Wae Rebo.

Perjalanan dari Ruteng ke Desa Dintor sangat melelahkan, bagaimana tidak? Kondisi jalan sempit dan rusak parah. Jalan aspal tinggal seperti bebatuan yang disusun. Jarak 76 km ditempuh dalam waktu sekitar 6,5 jam. Bahkan saat pulang dari Desa Dintor menuju Lembor terdapat 3 sampai 4 jembatan patah.

Ketika akan naik ke Wae Rebo Logde di Desa Dintor terdapat tulisan bahwa Wae Rebo masih tutup. Bayangkan setelah menempuh perjalanan yang penuh perjuangan seperti apa rasanya? Panik gak? Panik gak? Panik lah! Masa enggak. Wkwkwk..

Kita pun tetap lanjut naik ke Wae Rebo Lodge yang merupakan penginapan milik salah satu tokoh penggerak pariwisata Wae Rebo, Pak Martin namanya.

Dari Pak Martin kita mendapatkan informasi bahwa Wae Rebo dibuka. Kita sampai di Wae Rebo Lodge sekitar pukul 12.00. Sambil menunggu travelmate Jum’atan, saya mengurus administratif penginapan.

Wae Rebo Lodge, Desa Dintor
Sunrise dari Wae Rebo Lodge

Kami bermalam di Wae Rebo Lodge selama 2 malam. Malam Sabtu istirahat dulu sebelum trekking ke Wae Rebo dan Malam Senin setelah trekking dari Wae Rebo. Untuk 2 malam, tarif yang dikenakan Rp 800.000,- sudah termasuk makan 2 kali yaitu saat sahur pukul 04.00 pagi dan berbuka pukul 18.30 malam. Cukup bersahabat bukan?

Sajian makanan pun cukup komplit ada nasi merah yang masih hangat, tumis kangkung buncis, dan lauk berupa ikan plus tempe/terong, sambal, serta lalapan. Bahkan di hari pertama berbuka ada tambahan lauk balado telur. Rasanya pun sedaaaap! Semua makanan selalu habis tak bersisa. Khilaf!

Sabtu pagi pukul 07.00, kita mengendarai motor dari Wae Rebo Lodge menuju Pos 1 ditemani Mas Deven, seorang porter ke Wae Rebo. Tujuan kita menggunakan jasa porter sebenarnya lebih sebagai guide untuk menemani dan mengarahkan selama perjalanan serta saat berada di Wae Rebo.

Perjalanan dari Wae Rebo Lodge sampai pos 1 menaiki motor membutuhkan waktu sekitar 45 menit. Kondisi jalan menanjak dan dibeberapa titik rusak parah sehingga harus berhati-hati dan pastikan motor dalam kondisi prima.

Setelah sampai pos 1, kita parkir dan meninggalkan kendaraan di tempat tersebut kemudian memulai trekking. Bila kalian membutuhkan tongkat dapat menyewa dengan tarif Rp 10.000,- per tongkat. Untuk sampai ke Wae Rebo normalnya membutuhkan waktu sekitar 2 jam melewati 3 pos yaitu pos 1, pos 2, dan pos tiga serta Rumah Kasih Ibu.

Kawasan trekking masuk ke area Hutan Lindung Todo. Selama perjalanan teduh karena kanan kiri berupa pepohonan namun keringat bercucuran karena medan yang menanjak khususnya trekking dari pos 1 ke pos 2. Trekking pos 1 ke pos 2, kita tempuh dalam waktu 1,5 jam. Pos 2 bisa dibilang setengah dari perjalanan. Jalur trekking pos 1 ke pos 2 adalah jalur paling panjang dan menanjak. Pos 2 ke pos 3 masih harus melewati beberapa tanjakan, kira-kira 30 menit kemudian jalur sudah landai hingga Rumah Kasih Ibu.

Pos 2 Pendakian Wae Rebo

Dari pos 3, kita dapat melihat atap perkampungan Desa Adat Wae Rebo. Sampai di pos 3, lanjut ke Rumah Kasih Ibu yang dapat ditempuh dengan waktu 15-20 menit. Sesampainya di Rumah Kasih Ibu, Mas Deven memberikan informasi bahwa tidak diperkenankan mengambil gambar usai meninggalkan Rumah Kasih Ibu hingga tiba di Wae Rebo sebelum upacara adat. Untuk biaya upacara adat Rp 50.000, kita serahkan ke Mas Deven saat di Rumah Kasih Ibu. Sebelum lanjut perjalanan, Mas Deven memukul kentongan sebanyak 3x yang menjadi tanda bahwa ada tamu yang akan datang ke Wae Rebo.

Pos 3 Pendakian Wae Rebo

Dari pos 2 sampai ke Wae Rebo, trekking yang kita tempuh memakan waktu 1 jam. Kita berhasil sampai ke Wae Rebo dalam waktu 2,5 jam, maklum ya karena kita sebelumnya jarang jalan kaki dengan jarak jauh dan waktu yang lama.

Sepulang dari Wae Rebo, kita kembali ke Labuan Bajo dan berbincang dengan salah satu crew operator wisata tentang saat-saat tersulit di Wae Rebo Lodge. Terkadang kalau datang rombongan makan bisa apa adanya seperti Indomie. Wah, beruntungnya kita tidak merasakan hal tersebut. Kita bermalam di Wae Rebo 1 malam mendapatkan makanan buka dan sahur berupa nasi telur plus kopi khas Wae Rebo. Saat dini hari, kita dapat menikmati pemandangan langit bertabur penuh bintang (milky way).

Bila bermalam di Wae Rebo, kita akan dipinjami selimut. Terdapat rumah khusus yang menjadi tempat penginapan untuk tamu. Tempat tidur melingkar, bagian tengah sebagai tempat untuk makan.

Udara di Wae Rebo tidak terlalu dingin seperti di Ruteng. Tapi air di Wae Rebo sangat dingin. Kamar mandi tersedia cukup baik.

Apabila teman-teman datang atau pulang usai hujan, hati-hati ya karena jalan licin dan lintah berkeliaran.

Biaya yang dihabiskan saat di Wae Rebo

  • Penginapan 2 malam di Wae Rebo Lodge, Desa Dintor Rp 400.000,- per malam sudah termasuk makan 2 kali (pagi dan malam / buka dan sahur)
  • Penginapan di Wae Rebo 1 malam Rp 325.000,- per orang. Kamar sharing dengan peserta lain. Mendapat makan malam dan pagi, bisa diganti saat buka dan sahur.
  • Porter Rp 200.000,-
  • Ojek porter pergi pulang Rp 100.000,-
  • Tongkat pendakian Rp 10.000,- per tongkat

Tips ketika trekking agar tidak mudah lelah adalah mengatur pernafasan. Ketika jalan menanjak, 1 langkah dibarengi ambil nafas, 1 langkah selanjutnya buang nafas. Begitu seterusnya.

Note:

  • Sewaktu di jalan pedesaan tak jauh dari gapura Todo, kita sempat bertemu gerombolan anak kecil yang melakukan pemalakan “Minta duit buat pajak diatas”, kita lewatin aja. Buat yang ketemu seperti ini tolong jangan kasih apa-apa ya supaya tidak menjadi kebiasaan nantinya.
  • Bersikap ramah dan menggunakan pakaian sopan ketika berada di Wae Rebo.
  • Minta ijin sebelum mengambil foto seseorang.
  • Tidak memberikan sesuatu (permen, uang, mainan, atau kue) tanpa seijin orangtua.
  • Di Wae Rebo Lodge tidak ada sinyal data, bila ingin mendapatkan sinyal data/internetan dapat turun dulu ke tepi pantai yang berjarak sekitar 6 km.
Sunrise Pantai Dintor

Kesimpulan:
Ke Wae Rebo saat bulan puasa, kenapa tidak? Kita tetap dapat berpuasa asalkan mampu mengukur kemampuan tubuh.

Trekking Danau Kelimutu di Saat Puasa dan Masa Pandemi

Perjalanan keliling Flores dari 17 Pulau Riung berlanjut ke Ende dimulai pukul 11.00 sampai Ende sekitar pukul 15.00, kita berhenti agak lama di Bukit Pelangi Nusantara, Nangaroro karena travelmate mau lanjut kerja dulu.

Dari Ende, kita langsung menuju Moni yang terletak di kawasan wisata Kelimutu dan di tempat tersebut banyak penginapan. Kalian anak 90-an pasti sudah tau kan Danau Kelimutu yang tercetak di uang 5.000 rupiah tahun 1992? Danau ini dikenal memiliki 3 kawah berwarna dengan warna yang berbeda-beda yaitu merah, biru, dan hitam. Warna air danau pun dapat berubah-ubah. Berdasarkan info dari warga lokal, Danau Kelimutu juga menjadi spot Sunrise terbaik di Flores.

Perjalanan ke Moni ditemani hujan. Kita tiba di Moni sekitar 16.55, bermalam di Bintang Bungalow. Informasi dari pemilik penginapan bila ingin ke Danau Kelimutu harus reservasi terlebih dahulu via WA di nomor 0821-1010-3335. Hal ini dilakukan oleh pengelola wisata untuk membatasi jumlah pengunjung di masa pandemi. Karena sudah lewat dari jam layanan reservasi sehingga hari Sabtu tidak bisa lanjut ke Danau Kelimutu dan kita stay di Moni 2 malam.

Tiba mendekati waktu berbuka puasa, saya berangkat untuk mencari makanan berbuka. Yang bisa didapat bakso. Cukup untuk menghangatkan ditengah dinginnya udara daerah Moni.

Sabtu pukul 07.30 pagi kita melakukan reservasi ulang untuk masuk ke Danau Kelimutu dan mendapat balasan kode booking pukul 12.26. Setelah reservasi, kita keliling daerah sekitar untuk membeli bensin dan aqua, serta mampir ke pasar. Setelah pulang dari pasar, travelmate justru demam.

Pukul 20.00, di Moni hujan deras hingga waktu sahur pukul 04.00. Dagdigdug, kira-kira bisa tidak ini tetap lanjut ke Danau Kelimutu? Rencana awal berangkat pukul 04.15 sehingga sampai pintu pembelian tiket pukul 04.30 pas sesuai jam buka. Dikarenakan hujan, kita baru berangkat 05.30 dan gerimis diperjalanan.

Saat pembelian tiket, kita diminta untuk menunjukkan KTP dan membayar tiket masuk. Anehnya, kode booking tidak diminta saat pembelian tiket. Mungkin kalau sedang tidak ramai pengunjung, kita bisa langsung on the spot beli tiket tanpa harus reservasi kali ya. Ada yang pernah coba tidak reservasi dulu saat pandemi seperti ini?

Jarak dari Moni ke Kelimutu sekitar 9 KM. Dari pintu tiket masuk Danau Kelimutu hingga area parkir berjarak sekitar 3 KM. Dari area parkir, pengunjung mulai trekking. Jalur trekking berupa tangga, jalan bebatuan, dan pasir di sejumlah titik. Jarak trekking tidak terlalu jauh, mungkin sekitar 15-20 menit saja dengan berjalan santai.

Sampai di area parkir hanya terlihat beberapa motor dan 1 mobil. Kondisi sekitar berkabut dan dingin. Sampai spot pertama yaitu Tiwu Koo Fai Nuwamuri Atapolo samar terlihat warna biru dari kawah yang tertutup oleh kabut. Saat angin berhembus dan menyapu kabut terlihat keindahan danau ini.

Trekking dilanjutkan menuju puncak bukit yang diatasnya terdapat bangunan seperti tugu. Untuk dapat sampai ke spot tersebut pengunjung harus menapaki anak tangga. Bila beruntung, kalian dapat bertemu dengan monyet-monyet yang berkeliaran. Jangan pernah memberikan makanan pada monyet tersebut ya! Hal itu tertulis dalam papan himbauan yang ada di puncak bukit. Dari puncak bukit/atas tuga, pengunjung dapat melihat 3 kawah danau. Dua danau saling berdampingan, sementara danau hitam berada disisi yang berbeda.

Sayangnya saat kita tiba kondisi alam tidak bersahabat, danau lebih sering tertutupi oleh kabut dan tidak muncul matahari karena diselimuti awan mendung. Angin pun bertiup kencang dan sangat dingin.

Mengenai fasilitas wisata di Danau Kelimutu terbilang sudah cukup baik, jalan menuju lokasi dapat dikategorikan cukup baik. Terdapat tempat istirahat dan toilet di area trekking. Bila kalian ingin bermalam di sekitar danau pun tersedia penginapan yang berada dekat dengan pintu loket masuk Kelimutu.

Note:

  • Harga tiket masuk Danau Kelimutu bagi WNI Rp 5.000,- per orang saat weekdays. Sementara saat weekend Rp 7.500,- per orang.
  • Danau Kelimutu buka mulai pukul 04.30 pagi.

Island Hopping 17 Pulau Riung

Hari ini merupakan hari puasa ke-4, kita berada di Kota Riung. Tempat ini terkenal sebagai wisata bahari dimana pengunjung dapat berkunjung ke beberapa pulau dengan kapal.

Kita sampai di Riung pada puasa ke-3 sebelum ashar. Di Riung banyak ditemukan pemukiman warga muslim yang ditandai dengan adanya masjid. Penduduk berasal dari suku Bugis dan Bajo. Pantas saja bahasa daerahnya sudah berbeda dengan yang biasa kita dengar yaitu Bahasa Manggarai. Mereka sangat ramah dan murah senyum.

Ketika sampai di Pelabuhan Pariwisata Riung (Nangamese) kita berjumpa dengan Pak Talib dan sedikit berbincang. Beliau seorang pemilik kapal wisata yang melayani jasa island hopping. Selain itu ada juga pemilik Shangrilla Lodge.

Shangrilla Lodge

Akhirnya kita mengambil penginapan di Shangrilla Lodge yang letaknya tidak jauh dari pelabuhan pariwisata. Tarif per malamnya Rp 200.000,-. Pemiliknya seorang muslim kita dapat bonus buka puasa berupa es kelapa muda yang dicampur alpukat dan monte. Kemudian saat sahur diberi ikan bakar, sayur, sambal, dan teh hangat. Enak sekali masakannya…

Buka puasa kita diajak ke masjid oleh Pak Talib dan pemilik Shangrilla Lodge. Warga sekitar setiap hari saling bergilir membawa makanan dan minuman ke masjid untuk berbuka puasa. Sajian berbuka berupa makanan dan minuman tradisional seperti lopis, es kelapa muda, dan minuman sagu.

Ketika masuk waktu berbuka, semua yang datang ta’jil membatalkan puasa disusul adzan magrib. Setelah adzan langsung iqomah dan lanjut sholat magrib. Untuk shalat isya dan tarawih dimulai sekitar pukul 19.15. Tarawih berlangsung 8 rakaat dilanjutkan witir 3 rakaat.

Keesokan harinya,
Kita sudah janjian dengan Pak Talib pemilik kapal pukul 06.00 bertemu di Pelabuhan Pariwisata dan mulai berangkat island hopping ke Pulau Kelelawar, Pulau Tiga, dan Pulang Rutong.

Biaya penyeberangan island hopping di 17 Pulau Riung 400.000 per kapal. Walaupun hanya berdua dan ambil trip tidak sampai setengah hari, harga tetap sama dengan trip sehari. Kata Pak Talib, biaya tersebut sudah berlangsung selama 4 tahun ditambah lagi sekarang solar susah dicari. Kalau kalian ketika snorkling membutuhkan pelampung dan kacamata dapat menyewa dengan tarif 50.000.

Tujuan pertama kita adalah Pulau Kelelawar. Pulau yang dipenuhi oleh kelelawar ini biasanya dipenuhi oleh kapal-kapal wisata dan ramai oleh pengunjung pada saat sore hari. Pengunjung dapat melihat sunset bersamaan dengan kelelawar mulai beterbangan. Di pulau ini juga terdapat komodo dengan kulit berwarna-warni. Sayangnya kita tidak dapat melihat komodo tersebut karena tidak ada pawang dan pulau sedang ditutup sehingga kita hanya melihat persinggahan kelelawar dari atas kapal.

Selanjutnya berkunjung ke Pulau Rutong dan Pulau Tiga. Biasanya bila tidak puasa keliling pulau akan diajak untuk bakar ikan di Pulau Tiga/Pulau Rutong. Tentu dengan biaya tambahan untuk beli ikan ya. Normalnya Pulau Rutong dipenuhi oleh bule untuk berjemur. Baik pemilik kapal maupun penginapan mengatakan bahwa semenjak covid pariwisata di 17 Pulau Riung sangat sepi. Mendengar hal tersebut rasanya jadi sedih.

Benar saja, saat kita island hopping tidak ditemukan pengunjung lain sehingga terasa seperti pulau pribadi. Kegiatan yang dapat dilakukan di Pulau Tiga dan Pulau Rutong adalah snorkling. Di Pulau Rutong, pengunjung juga bisa mendaki bukit untuk melihat pemandangan dari atas. Tapi karena matahari sudah mulai meninggi dan sedang berpuasa, kita tidak mencoba naik ke atas.

Pulau Tiga

Aku sendiri tidak bisa berenang sehingga saat berada di area snorkling Pulau Rutong tidak terjun ke air walaupun terdapat pelampung karena cukup dalam. Pak Talib pun menawarkan snorkling di area yang tidak dalam yaitu di Pulau Tiga karena kasihan cuma bisa melihat travelmate snorkling. Walaupun tidak bisa melihat karang yang beragam tapi saat snorkling di Pulau Tiga dapat dijumpai ikan kecil-kecil yang beragam. Lumayan lah… 🙂

Kalau kalian ke 17 Pulau Riung dan ingin menginap dan berkeliling pulau coba aja ke Shangrilla Lodge kemudian minta bantuan jasa kapal Pak Talib.Dari Riung, kita melanjutkan perjalanan ke Moni, Ende untuk berkunjung ke Danau Kelimutu. Ikuti terus ya update perjalanan kita di Flores.

Ujian Puasa On The Road – Flores

Puasa tahun 2021 ini, kita mencoba hal yang berbeda dengan berpuasa di kota orang sambil jalan berpindah-pindah kota (nomaden).

Mulai sahur pertama sudah mendapat cobaan, lagi santai mandi eh dibilang sepuluh 10 menit lagi imsak sama travelmate. Padahal masih 40 menit. Karena sebelumnya nggak ngecek ulang jam imsak & percaya aja, makan pun jadi buru-buru. Sungguh menyebalkan!

Tapi ada yang menarik dari sahur pertama ini yaitu pemandangan kerlip lampu diperbukitan ditengah dingin udara Kota Ruteng. Langit bertabur bintang ditambah bulan sabit bersinar terang. Terima kasih untuk Sky Terrace Hotel yang sudah memberikan menu breakfast pada jam sahur dengan menu yang special.

Sky Terrace Hotel & RestoSky Terrace Hotel & Resto_kamar

Check out dari Sky Terrace Hotel, kami berencana menuju Bajawa. Searah menuju daerah yang terkenal dengan hasil kopinya tersebut terdapat Taman Wisata Alam, didalamnya terdapat Danau dan Air Terjun Ranamese. Untuk dapat melihat kedua spot itu, pengunjung harus berjalan kaki menyusuri hutan. Jalan tidak terlalu jauh namun menaiki dan menuruni tangga yang terkadang licin oleh lumut/dedaunan jatuh yang basah. Walaupun udara dingin ketika trekking membuat berkeringat dan haus.

Jalur trekking di hutan

Air Terjun Ranamese

Ketika akan sampai ke Air Terjun Ranamese travelmate merogoh saku kemudian menyadari bahwa STNK hilang. Padahal sorenya ada di meja kamar hotel. Karena di kawasan Danau Ranamese tidak terdapat sinyal sama sekali, kami pun bergegas mencari sinyal kembali ke arah Ruteng untuk menghubungi pihak hotel tempat bermalam tadi. Saat terhubung dengan orang yang membersihkan kamar tidak ditemukan barang yang tertinggal termasuk STNK.

Akhirnya kami kembali ke Ruteng. Ke penginapan untuk mengecek ulang. Hasil pengecekan ulang tidak ditemukan. Lanjut ke Polres Ruteng untuk meminta surat keterangan kehilangan. Kita dibantu oleh kawan. Terima kasih Pak Noni.

Kita lanjut ke Bajawa sekitar setengah 3 sore, langit mendung. Belum lama kita jalan, hujan datang. Sampai Pelabuhan Aimere pun hujan. Berhubung sudah mendekati waktu berbuka, kita berhenti di warung makan.

Setelah berbuka di sekitar Pelabuhan Aimere, lanjut menyusuri Jalan Trans Flores yang menanjak, berkelok, dan gelap. Ditambah dingin udara. Rasanya ajib banget! Banyak-banyak istigfar, dzikir, dan baca doa. Jalan gelap dan jarang sekali kendaraan lewat. Sangat tidak disarankan untuk jalan di malam hari.

Sampai di Bajawa, masih harus cari penginapan karena penginapan yang dituju penuh. Setelah mendapat penginapan, tidak mengganti breakfast dengan sahur dan tidak ada tempat buat masak. Huhuhu…

Puasa ketiga,
Di Bajawa kita hanya menemukan ATM BRI, BNI, dan bank lokal (kalau nggak salah Bank NTT). Travelmate sudah transfer uang ke BNI untuk ditarik tunai. Eh lha kog ternyata kartu expired bulan Desember 2020 dan baru sadar.

Akhirnya ke Bank BNI dulu untuk urus kartu atau tarik di teller. Sayangnya hal tersebut membutuhkan buku tabungan. Buku tabungan tidak terbawa karena ganti tas. Berdasarkan pengecekan juga tidak terdaftar mobile dan SMS banking, padahal sebelumnya sudah pernah mendaftar.

Karena tidak ada solusi lain (harus ada buku tabungan), ya sudah menyerah. Pas mau angkat kaki, kakak CS cek lagi kalau penggantian kartu yang belum menggunakan chip dapat dilakukan tanpa buku tabungan. Alhamdulillah…

Sungguh dibalik kesusahan ada kemudahan.

Terima kasih orang-orang baik. 🙂

PERGI KE LABUAN BAJO DI MASA PANDEMI – PART 2

Ini merupakan pengalaman pertama kita melakukan penyeberangan menaiki kapal dari Surabaya ke Labuan Bajo. Seperti apa situasi dan suasananya di masa pandemi ini? Simak dibawah ya…

Pukul 15.30 kita masih duduk-duduk ditempat pembelian tiket dan diinformasikan bahwa kapal sudah bersandar dan bisa masuk ke kapal. Sebelum ke sana, kita isi perut dulu. Kemudian ke swalayan membeli sedikit perbekalan.

Penyeberangan Surabaya – Labuan Bajo dijadwalkan berangkat pukul 19.00. Sayangnya hingga pukul 00.00, kapal tidak kunjung jalan sampai kita terlelap. Jadwal keberangkatan memang dapat berubah-ubah dikarenakan cuaca namun tidak ada hal yang diinformasikan oleh petugas melalui pengeras suara. Ternyata baru mulai jalan pukul 04.00. Entah kenapa pukul 03.00 sirine seperti suara kebakaran berbunyi dan membuat kita terbangun namun tak lama kemudian sebelum keluar dari kamar bunyi peringatan tersebut sudah mati.

Penyeberangan Surabaya – Labuan Bajo akan memakan waktu sekitar 33 jam. Kebayang kan lamanya? Sesampainya di kapal, kami sudah ditawari untuk memesan kamar dalam kapal dengan harga mulai dari Rp 200.000,- selama perjalanan. Kami pun memilih untuk mengambilnya. Dengan harga Rp 200.000,-, kita mendapat kamar sharing dengan penumpang lain. Karena risau dengan keamanan barang bawaan dan ternyata tersedia kamar private maka kita pindah. Biaya yang sudah kita bayarkan dipotong Rp 50.000,-. Jadi uang kembali Rp 150.000,- dan membayar kamar baru Rp 350.000,-. Tips ketika ditawari kamar lebih baik lihat dulu kamarnya, jangan langsung bayar. Kamar berbayar ditawarkan oleh awak kapal yang berbeda. Kalian bisa bandingkan dulu penawaran antar yang satu dengan yang lain.

Sebenarnya setiap penumpang mendapat jatah tempat tidur gratis dengan banyak orang. Yang membuat tidak nyaman adalah banyak orang tidak tertib sehingga mengganggu kenyamanan penumpang lain seperti merokok di area tempat tidur.

Tidak heran terlihat beberapa orang pindah tempat, menggunakan tempat yang bukan tempat tidur sebagai tempat untuk tidur. Walaupun kapal tidak begitu ramai oleh penumpang namun beginilah keadaan dan situasinya.

Selama perjalanan ini akan mendapat nasi box 4 kali. Akan tetapi dalam penyeberangan ini mendapat nasi box 5 kali, mungkin karena delay. Rasa makanannya lumayan, nasinya banyak tapi lauknya dikit. Jadi kalau kalian ikut penyeberangan ini lebih baik bawa bekal lauk seperti abon atau rendang kering.

Malam pertama sekaligus hari pertama masuk kapal, belum dapat nasi. Beruntung sebelum berangkat sudah makan dulu. Nasi baru didapat pada hari kedua. Sarapan nasi pecel lauk telur dadar. Makan siang ayam goreng dan kuah bihun. Makan malam ikan. Makan pagi telur balado. Makan siang (bonus) ayam goreng. Makan ini ambil sendiri di kantin dengan menunjukkan tiket. Apabila sudah mengambil makanan maka tiket akan ditandai.

Letak kamar berbayar ada di lantai 3, sementara tempat tidur gratis ada di lantai 2. Toilet di lantai 2 terdapat pembagian untuk pria dan wanita. Di kamar mandi wanita lantai 2 hanya berupa bilik dengan ember dan gayung seperti untuk mandi saja, tidak terdapat WC.

Sementara di lantai 3 ada 2 toilet yang ukurannya lebih layak sebagai kamar mandi dilengkapi dengan WC duduk dan lebih bersih dibandingkan dengan toilet di lantai 2. Pantas saja kalau kamar mandi di lantai 3 ini jarang sekali kosong karena memang dipakai bergantian 1 penghuni kapal. Huhuhu…

Hari pertama bermalam di kapal yang belum jalan.
Di penyeberangan hari kedua tidak terlihat pulau lagipula cuaca seharian mendung dan tidak tampak matahari. Di hari ketiga mulai terlihat pulau-pulau, cuaca cerah, dan beberapa kali tampak ikan terbang dan lumba-lumba melompat lompat menunjukkan keberadaannya.

Akhirnya sampai juga di Labuan Bajo setelah 36 jam penyeberangan dari Surabaya dengan KM Niki Barokah. Bongkar muat kapal memakan waktu sekitar 45 menit, kendaraan roda dua (motor) dan roda empat (mobil) keluar akhir karena lantai pertama diperuntukkan bagi truk besar.

Saat keluar kapal, pengendara bermotor & mobil akan dicek lagi dokumen swab antigen dan kartu kuning yang telah diisi akan diperiksa kemudian diminta oleh petugas pelabuhan. Kartu kuning ini semacam pendataan orang yang masuk ke Labuan Bajo diberikan oleh petugas saat validasi hasil swab antigen di pelabuhan asal.

Ketika kita sampai petugas pelabuhan menginformasikan bahwa hingga 11 April 2021, island hopping atau kunjungan ke pulau-pulau di Labuan Bajo tidak dapat dilakukan dikarenakan alasan cuaca.

Pergi ke Labuan Bajo di Masa Pandemi – Part 1

Rencana awal sebenarnya pergi ke Ende pada akhir Maret. Namun karena cuaca dan masih ada kesibukan sehingga mundur 1 minggu menjadi diawal April. Perjalanan kita mulai dari Jogja menaiki motor menuju Surabaya dengan jalur Klaten – Solo – Karanganyar – Tawangmangu – Madiun – Nganjuk – Mojokerto – Surabaya.

Berangkat dari Jogja pukul 08.00, pukul 10.30 sarapan sekaligus makan siang dulu di Sate Kambing dan Tengkleng Rica-Rica Pak Manto dan beberapa kali berhenti untuk melemaskan otot. Sehingga sampai di kawasan Tanjung Perak, Surabaya pukul 18.45.

Paginya mulai pukul 07.30, kita berangkat untuk mencari informasi apakah ada penyeberangan ke Ende? sekaligus membeli tiket penyeberangan tersebut. Kita menuju PT. Berlian Lautan Sejahtera dan ternyata baru buka jam 09.00. Sehingga kita lanjut mencari informasi di pelabuhan terkait dengan tes kesehatan dan dokumen yang diperlukan untuk penyeberangan. 

Informasi dari petugas, tes kesehatan di pelabuhan hanya dilayani pada hari Senin dan Jum’at. Kita pun disarankan untuk genose di stasiun terdekat yaitu Stasiun Pasar Turi. Akhirnya kami pergi ke stasiun dan ternyata stasiun hanya melayani genose untuk penumpang kereta api dengan perjalanan jarak jauh. Ckckck… Pentingnya knowledge petugas informasi agar dapat memberikan informasi yang jelas dan benar.

Oh iya, kalau datang ke pelabuhan hati-hati ya karena banyak calo gigih ngikutin yang menawarkan jasa swab antigen atau pembelian tiket.

Singkat cerita, kita melakukan swab antigen di RSIA IBI Surabaya dengan biaya 507.500 untuk 2 orang. Setelah mendapat hasil tes swab antigen dan dokumen tersebut, lanjut ke tempat pembelian tiket penyebrangan. Penyeberangan ke Ende belum ada, yang tersedia adalah penyeberangan ke Labuan Bajo. Namun, pembelian tiket harus menyertakan hasil swab antigen yang sudah divalidasi oleh pihak pelabuhan. Balik lagi deh ke pelabuhan untuk validasi dokumen. 

Jreng.. jreng.. 

Dan lagi-lagi ya, ada ketidakseragaman informasi yang disampaikan oleh petugas informasi mengenai tempat validasi dokumen. Ketika tiba di loket validasi dokumen, waktu sudah menunjukkan pukul 10.00 namun petugas belum ada. Kita pun menunggu hingga pukul 11.00 lebih dan petugas juga belum tampak. Akhirnya kita tinggal dulu untuk check out dari hotel.

Kasian lho banyak yang antri tujuan Kumai dengan kapal yang dijadwalkan berangkat 13.00 tapi jam 11.00 masih nunggu validasi dokumen yang nggak jelas jamnya. Kalau dari papan pengumuman seharusnya jam tersebut masuk jam pelayanan.

Kita balik lagi jam 13.00, Alhamdulillah 13.26 antrian validasi dokumen sudah kembali dibuka. Proses validasi dokumen ini tidak dapat diwakilkan, sedikit mirip dengan wawancara imigrasi. Akan ditanya pergi berapa orang? mau kemana? sehat enggak? Kalau kalian pergi rombongan dengan keluarga antri aja dengan perwakilan 1 orang supaya tetap jaga jarak aman dengan antrian yang lain. Sementara anggota keluarga tetap ada di sekitar sehingga bila diperlukan langsung bisa menampakkan wajah.

Validasi sudah dapat, lanjut fotokopi dokumen yang sudah divalidasi beserta dengan KTP seperti berikut:

Fotokopi ini akan diminta saat pembelian tiket penyeberangan. Harga tiket penyeberangan Surabaya – Labuan Bajo dengan KM Niki Barokah – 2 orang penumpang plus 1 motor yaitu 1.300.000,-.

Simpan baik-baik ya tiket dan hasil tes bebas covid-19 yang sudah divalidasi karena ketika masuk kapal akan dicek lagi.

Lanjut part 2 ya, yang pengen tau Penyeberangan Surabaya – Labuan Bajo dengan Kapal seperti apa suasananya.

Terima kasih sudah mampir ditulisan ini.

Mencicipi Sate Kambing dan Tengkleng Rica-Rica Pak Manto

Jalan-jalan sama jomblo
Makannya semangkuk soto
Kalau kamu pergi ke Solo 
Yuk kulineran di Sate Kambing Pak Manto

Wkwkwk, begitulah pantun pembuka tulisan ini.
Kalau kurang pas tolong dimaafkan ya. 

Sate Kambing dan Tengkleng Rica-Rica Pak Manto terletak di Jl. Honggowongso No. 36 Surakarta. Letaknya berada di pusat kota Solo dan warungnya berdiri persis di tepi jalan raya sehingga mudah untuk ditemukan. Jadi letaknya di Solo atau Surakarta? Nah, sebelum membahas mengenai menu olahan dari daging kambing di Warung Pak Manto, mungkin ada yang masih bingung dengan Solo dan Surakarta. 

Solo adalah desa di wilayah Jawa Tengah yang mulanya disebut Sala. Sementara Surakarta merupakan sebutan keraton yang menduduki wilayah tersebut. Kota Surakarta itu bisa disebut juga Solo. CMIIW.

Lanjut bahas soal warung yang populer di Solo ini, memiliki beberapa cabang bahkan di kota tetangga. Salah satunya ada di Jogja. Buat yang ada di Jogja kalau pengen icip-icip Sate Kambing dan Tengkleng Rica-Rica Pak Manto setidaknya tidak perlu jauh-jauh ke Solo.

Berhubung kita dalam perjalanan ke Surabaya dan melewati Solo tidak ada salahnya sarapan sekaligus makan siang dulu di Warung Pak Manto ini. Memasuki warung ini, pengunjung langsung disuguhi tembang jawa yang dinyanyikan live oleh tiga ibu berpakaian jawa dan bersanggul. Satu diantaranya memainkan alat musik kecapi.

Warung yang buka mulai pukul 07.30 hingga 20.00 ini menyediakan menu tengkleng rica-rica/seger, sumsum rica/seger, tongseng kambing, sate buntel, sate kambing, buntel masak, nasi goreng kambing/polos, otak goreng, gulai, dan nasi godog kambing. Rekomendasi dari warung, menu spesialnya adalah otak goreng.

Untuk pertama kalinya kita mampir ke warung ini untuk mencoba tengkleng rica-rica dengan level pedas sedang dan sate buntel. Tengkleng merupakan balungan atau tulang yang masih berbalut sedikit daging kalau beruntung dapat rusuk. Sajian berkuah ini memiliki rasa gurih pedas. Jika biasanya tengkleng diberi sayuran berupa kubis yang diiris-iris, disini kubisnya berbentuk potongan besar yang layu karena panas tengkleng. Cocok buat yang nggak suka kubis mentah. 

Satu porsi sate buntel berisi 3 kepalan daging kambing cincang yang dibakar. Kepalan sate buntel disini bisa dibilang jumbo. Rasa satenya mantap! Manis pas berbalur bumbu yang khas. Baik tengkleng maupun satenya tidak terasa amis sama sekali.

Harga menu:

  • Sate buntel 60.000 per porsi
  • Tengkleng rica 60.000 per porsi
  • Nasi putih 5.000 per porsi
  • Jeruk hangat/es 7.000

Apakah kalian tertarik untuk mencoba kuliner di Sate Kambing dan Tengkleng Rica-Rica Pak Manto bila berada di Solo? Buat yang pernah mampir kesini, menu mana yang paling kalian suka?

Segini Budget Touring Jogja – Riau

Di masa pandemi yang masih berlangsung sampai saat ini membuat kegiatan bepergian menjadi lebih terbatas untuk mengurangi penyebaran virus. Bepergian menaiki transportasi umum mungkin masih membuat rasa was was bagi sebagian orang sehingga banyak yang beralih menaiki kendaraan pribadi untuk melakukan perjalanan jarak dekat maupun jauh.

Menjelang akhir tahun lalu, kami memberanikan diri untuk mencoba touring mengendarai mobil dari Jogja menuju Riau melewati jalan tol. Perjalanan dimulai dari Jogja menuju Solo, memasuki tol Colomadu – Banyumanik.

Rute Perjalanan
Rute perjalanan yang kita tempuh yaitu Jogja – Jakarta – Lampung ( mampir di Kalianda dan Tulang Bawang Barat) – Palembang – Jambi –Riau.

Jalan Tol

Buat kalian yang mau coba lewat jalan tol, jangan lupa ya untuk mempersiapkan e-money beserta saldonya. Lebih bagus lagi kalau dilengkapi dengan tongkat kartu e-money untuk membantu tap ke mesin pintu tol yang pembayarannya sudah cashless. Jadi saat akan melewati jalan tol persiapkan kartu e-money dengan saldo yang cukup ya. Kira-kira berapa saldo yang dibutuhkan ketika melewati tol dari Colomadu sampai Jakarta/Merak? kemudian lanjut ke Lampung hingga Palembang, berikut perkiraannya:

  • Tol Colomadu – Banyumanik 65.000
  • Tol Kalikangkung – Tegal 141.000
  • Tol Tegal – Palimanan 71.500
  • Tol Palimanan – Cikampek 122.500
  • Tol Cikampek Utama 2 – Halim 10.000
  • Tol Senayan – Kuncaran I 10.000
  • Tol Cikupa – Merak 51.500
  • Tol Bakauheni Selatan – Kalianda 22.000
  • Tol Sidomulyo – Gunung Batin 105.000
  • Tol Menggala – Kayuagung 131.500
  • Tol Kayuagung – Jakabaring 39.500

Biaya jalan tol Jogja – Jakarta estimasinya Rp 410.000, sementara bila sampai ke Merak ditambah Rp 51.500, kemudian biaya tol Bakauheni  hingga Palembang Rp 298.000.

Di beberapa pintu tol biasanya menampilkan sisa saldo e-money jadi kalau saldo sudah menipis sebelum masuk gerbang tol selanjutnya bisa isi dulu melalui ATM/Indomaret yang ada di Rest Area terdekat. Kalau smartphone kalian sudah dilengkapi dengan NFC tinggal isi aja via internet banking.

Kondisi jalan tol di beberapa titik kondisi kurang baik (jalan bergelombang dan berlubang) sehingga harus tetap waspada dan berhati-hati di jalan yang terlihat lurus dan mulus tapi waktu udah deket jadi beda kayak gebetan yang tiba-tiba ghosting bikin deg deg-an nggak karuan. Selama perjalanan pada akhir tahun lalu, jalan tol yang paling panjang area berlubang di sepanjang Palembang.

Penyeberangan dan Penginapan
Dalam perjalanan ini, kita nggak buru-buru sampai tujuan. Jadi ya jalan santai tanpa gaspool. Selama perjalanan, kita menginap di Jakarta, Lampung, Palembang, dan Jambi.

Waktu itu kita mendapat jadwal penyeberangan saat petang dan sampai di Pelabuhan Bakauheni (Lampung) sudah malam. Penyeberangan Merak – Bakauheni memakan waktu sekitar 1,5 jam dengan tarif Rp 591.000,- menaiki kapal express. Untuk selengkapnya mengenai penyeberangan dapat disimak disini ya.

Sesampainya di seberang pulau, kita bermalam di daerah Kalianda sehingga pagi harinya bisa ke pantai. Coz lama nggak ke pantai. Waktu di pantai, travelmate kepikiran buat mampir tempat kating di daerah Tubaba dan malamnya nginep disana. Thank you Mas Afriz yang udah bersedia jadi guide dan mau direpotin sama kita.

Dari Tulang Bawang Barat lanjut ke Palembang. Mulai perjalanan ini badan terasa capek. Sehingga sesampainya di Palembang cuma mampir ke Jembatan Ampera dan nyicipin kuliner khasnya yaitu Martabak Har yang dibeli disebelah hotel dimana kita menginap. Nggak lupa juga empek-empek Candy yang dibeli via go food. 😀

Hotel tempat kita menginap di Palembang ini melakukan layanan sesuai dengan protokol kesehatan dimana ketika antri ambil makanan menerapkan jarak aman dan makanan yang biasanya diambil secara prasmanan diganti dengan diambilkan oleh pramusaji. Tips sarapan ala kita waktu di hotel adalah datang diawal waktu dimana belum terlalu ramai.

Setelah sarapan lanjut tancap perjalanan ke Jambi. Sampai di Jambi kita nemu ada penjual duren tapi sayangnya nggak mampir. Jadilah kita pesen go-food aja sate padang karena udah laper. Masih laper? Lanjut go-food pempek!

Jembatan Ampera Palembang
Jembatan Ampera Palembang

Please baca sampai selesai ada cerita seram! Waktu nginep disini hawanya nggak ada yang aneh tapi begitu nglilir alias kebangun tengah malam karena lapar ketika melihat ke arah meja, aku terkejut karena mangkok empek-empek yang belum tersentuh raib. Tak disangka, pelakunya adalah si gendut bukan tuyul! Oh no.. Oh no.. Oh no no no no no… (ngaku yang baca sambil nyanyi)

Di Jambi, penginapan yang kita pilih tidak menyediakan sarapan jadi lanjut jalan subuh. Kurang beruntungnya adalah sebelum sampai Jembatan Sungai Batanghari eh mobil rewel. Akhirnya cari bengkel dulu. Tapi nggak mengecewakan karena bikin kita nemu kuliner enak dan murah “Dendeng Batokok” seharga Rp 12.000,-. Kita juga meet up sama Pak Yudi dari Club Mercy Jambi yang sudah bantu mencarikan bengkel.Selain kenyamanan ketika beristirahat, keberadaan parkir mobil juga menjadi faktor menentukan dalam memilih penginapan saat touring. Tarif penginapan dengan fasilitas tersebut bisa kita temukan mulai dari Rp 160.000,-. Berikut pengeluaran penginapan kita selama perjalanan ini:

  • Penginapan di Kalianda, Lampung 100.000
  • Penginapan di Amaris, Palembang (termasuk sarapan) 305.000
  • Penginapan di Hotel Pinang, Jambi 134.000

Kalau kalian pengen hemat atau kejar waktu bisa aja bablas langsung sampai ke ujung pulau Sumatera setelah penyeberangan bila fisik dan kendaraan dalam kondisi baik. Dengan adanya tol sumatera, waktu perjalanan yang dibutuhkan sudah semakin singkat walaupun tol baru sampai Palembang. Sisanya masih dalam proses pembangunan dan semoga dapat segera rampung ya. Mari kita amiin kan…

Travelmate jadi sopir tunggal yang sepertinya sudah terlihat handal dan menguasai medan jalan. Lihai menyalip truk dan menyetir sampai 16 jam lebih (pagi-siang-dini hari) layaknya sopir travel, wkwkwk…

Bahan bakar mesin

Kendaraan bermotor tentu butuh bahan bakar biar bisa jalan, nggak perlu dijelasin sih ini sebenarnya. Tapi kalian penasaran nggak kira-kira berapa estimasi biaya yang dibutuhkan untuk membeli BBM selama perjalanan? Langsung kita kasih nih gambarannya!

  • Isi di Jogja 400.000
  • Isi di Tegal 407.500
  • Isi di Alam Sutera 353.000
  • Isi di Menggala KM 234 500.000
  • Isi di Sungai Lilin 275.000
  • Isi di Muaro Jambi 267.000
  • Isi di Belilas 288.000

Total untuk BBM menggunakan Pertamax yaitu sekitar Rp 2.490.500,-

Segini dulu ya! Gimana nih setelah menyimak sedikit cerita touring kita ini, apakah kalian tertarik untuk mencobanya juga?

hanya sebuah catatan kecil