Air Terjun Tegenungan: Pilihan Wisata Alam di Gianyar

Keindahan alam Pulau Dewata, Bali memang sudah tidak diragukan lagi. Selain menawarkan pantai dengan sunset yang menawan, Bali juga memiliki daerah perbukitan dengan pemandangan yang hijau dan suasana yang sejuk. Suasana tersebut dapat ditemukan, salah satunya di daerah Ubud Bali. Daerah dimana kami memilih untuk bermalam.

Tak kalah dari Ubud, daerah Gianyar juga menawarkan wisata alam yang menarik untuk dikunjungi. Salah satunya yaitu Air Terjun Tegenungan. Air terjun ini adalah air terjun yang berada di kawasan dataran rendah, tidak seperti air terjun lainnya yang berada di kawasan dataran tinggi.

Ya, setelah trekking pagi di Bukit Campuhan dan jalan ke Museum Blanco Renaissance kemudian checkout dari Ani’s Villas, saya dan travelmate yang sebelumnya berencana untuk ke Tegalalang langsung memilih untuk menuju Air Terjun Tegenungan karena berkejaran dengan waktu.

Air Terjun Tegenungan berada di Desa Kemenuh, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar, yang berjarak sekitar 35 km dari Kuta dan dapat dijangkau selama 1 jam perjalanan dengan menaiki kendaraan bermotor. Sedangkan dari Denpasar, berjarak sekitar 20 km. Karena tidak ada transportasi umum yang melewati jalur tersebut maka untuk menuju air terjun ini harus menaiki kendaraan pribadi maupun menyewa kendaraan. Karena kita dari daerah Ubud jaraknya lebih dekat lagi sekitar 12 km yang dapat dijangkau dengan waktu tak sampai 30 menit.

Pertama kali tau tempat ini dulunya dari blognya Mas Wijna dan akhirnya bisa kesini menyaksikan langsung keindahannya. Air terjun setinggi 4 meter ini tidak berada di tepi jalan, untuk sampai ke lokasi diperlukan sedikit perjuangan karena harus berjalan menuruni anak tangga. Rasa lelah akan terbayar begitu sampai di bawah Air Terjun Tegenungan yang memiliki air jernih dengan debit yang deras. Disini kalian dapat menikmati hijaunya pemandangan dan sejuknya alam sambil berenang atau sekedar bermain air. Letaknya yang berada dikawasan pedesaan dan jauh dari keramaian membuat tempat ini sangat tenang, jauh dari kebisingan.

Tak jauh dari air terjun dapat ditemukan pura dan pancuran air yang berasal dari mata air. Bagi kalian yang ingin menuju Air Terjun Tegenungan disarankan untuk membawa minuman. Turun tangga menuju area air terjun dan aliran sungai tidak terlalu berat. Namun ketika kembali ke atas, butuh usaha dan tenaga maksimal. Cobain sendiri deh buat merasakan sensasinya! Yang pernah kesini tulis dikomentar ya, rasanya naik tangga dari bawah untuk kembali ke area parkir, 😀

Sementara itu, di seberang sungai terdapat ayunan bertarif Rp 50.000,- yang dapat digunakan sebagai spot berfoto :D. Tak perlu khawatir harus basah untuk menuju area seberang karena terdapat jembatan bambu dan kayu yang saling menghubungkan. Selain bermain ayunan, kalian juga bisa trekking menuju area atas air terjun lho. Sayangnya untuk bagian yang ini kita nggak nyoba karena bawa tas ransel berat jadi harus hemat tenaga, hehehe…

Dibagian tepi sungai, kita dapat melihat batuan yang disusun-susun seperti yang pernah viral itu lho. Ternyata biar g ambruk dibagian tengah susunan bebatuannya ada yang dikasih bambu dan ada juga yang dibentuk dengan bantuan kawat.

Harga tiket masuk Air Terjun Tegenungan Rp 15.000 per orang untuk wisatawan lokal. Tempat wisata ini dibuka setiap hari mulai pukul 06.30 hingga 18.30 WITA. Area wisata sudah didukung dengan kamar mandi dan warung-warung yang menjajakan makanan, gelato, dan barang kerajinan khas Bali.

Advertisements

Jalan-Jalan Pagi di Bukit Campuhan (Campuhan Ridge Walk) Ubud

Bukit Campuhan adalah salah satu alasan bermalam di Ubud agar sore atau pagi-nya bisa jalan-jalan ke tempat yang termasuk cukup hits untuk foto dengan latar alang-alang. Pukul 05.30 WITA, masih cukup gelap untuk memulai perjalanan menuju bukit. Untungnya nggak jadi wacana, karena sebenarnya sore hari setelah sampai di penginapan Ani’s Villas bisa langsung kesini. Sayangnya, udah capek duluan jadi ya cuma leyeh-leyeh dikamar.

Pintu masuk menuju Bukit Campuhan atau yang dikenal juga dengan nama Campuhan Ridge Walk ini berada di Warwick Ibah Luxury Villas & Spa, dipercabangan dua jalan ambil jalan ke kiri. Kalau kalian membawa kendaraan bermotor bisa parkir di area sekolah.

Selain dengan berjalan kaki, untuk menuju jalur trekking dari Campuhan Ridge Walk dapat juga menggunakan sepeda. Namun, bila menaiki sepeda perlu angkat-angkat beberapa kali dikarenakan beberapa titik track berupa anak tangga.

Sedikit tips untuk kalian semua yang akan berkunjung ke Bukit Campuhan (Campuhan Ridge Walk) yaitu:

  • pakai alas kaki yang nyaman, lebih baik pakai sepatu
  • pakai celana/dresscode yang nyaman untuk jalan-jalan
  • bawa air putih
  • siapkan full baterai kamera untuk foto-foto 😀

Start pukul 05.30 memang masih gelap dan agak was-was takut kalau ada ular lewat. Sepertinya itu cuma ketakutan diri sendiri aja, alhamdulillah aman. Jam segitu juga udah ada wisatawan asing yang mulai trekking. Asyiknya jalan lebih pagi, area masih sepi bisa dinikmati sendiri. Waktu orang-orang baru datang, kita udah jalan balik.

Saat pagi hari, udara di Bukit Campuhan terbilang cukup sejuk. Pemandangan di Bukit Campuhan juga menyegarkan mata karena dikelilingi perbukitan hijau yang ditumbuhi pepohonan ditambah dengan lebatnya ilalang disamping kanan dan kiri area trekking. Tak jarang kumpulan ilalang tersebut dijadikan latar untuk berfoto. Perlu sedikit blusukan memang untuk berfoto dengan latar ilalang. Hati-hati karena daun ilalang agak tajam.

Untuk masuk ke area Bukit Campuhan (Campuhan Ridge Walk) tidak dipungut biaya alias free. Namun ada beberapa hal yang perlu diperhatikan seperti yang tertulis dipapan peringatan memasuki area Bukit Suci Gunung Lebah yang merupakan kawasan suci dan bersejarah.

Cari Penginapan dengan Harga Terjangkau di Ubud? Ani’s Villas Aja

Bila teman-teman mencari ketenangan saat bepergian wisata di Bali, cobalah untuk singgah dan bermalam di kawasan Ubud. Selain tenang, Ubud juga menawarkan banyak pilihan penginapan dengan view alam yang hijau. Bingung dengan pilihan yang ada? Salah satu penginapan di Ubud yang dapat kita rekomendasikan adalah Ani’s Villas.

Terletak ditepi Sungai Campuhan menjadi keunikan dan keistimewaan tersendiri yang dimiliki Ani’s Villas. Selain itu, lokasi Villa ini juga berdekatan dengan tempat-tempat menarik di Bali seperti Jembatan Tjampuhan, Museum Blanco Renaissance, dan Bukit Campuhan. Tidak ada salahnya juga bila hanya ingin menghabiskan waktu di beberapa spot villa ini sambil menikmati suasana alam ditemani suara aliran sungai yang syahdu.

Beberapa spot dan kegiatan yang dapat dilakukan di Ani’s Villa yaitu duduk-duduk di resto villa sambil membaca buku yang tersedia di setiap sudut ruang. Kebanyakan bukunya sih berbahasa inggris dan membahas tentang destinasi wisata Indonesia. Pilihan lainnya berenang di kolam renang, berendam air hangat di bath up, atau browsing di area resto. Wifi disini lumayan kenceng kog. Nggak ada salahnya juga kalau mau berkenalan dan berbincang-bincang dengan turis mancanegara sambil mengasah kemampuan berbahasa inggris karena kebanyakan memang yang tinggal disini bule-bule cantik. 🙂

Kamar penginapan di Ani’s Villas berada dalam bangunan seperti joglo. Satu joglo terdapat 2 kamar dengan kamar mandi dalam dan dilengkapi ruang tamu, kursi santai, dan dapur. Kamarnya ber-AC dan ditempat tidurnya diberi kelambu. Walaupun berada di sekitar tepi sungai, selama menginap disana nggak kelihatan satu nyamuk pun. Udara disini cukup dingin, AC nggak perlu nyala kecuali memang biasa tinggal di daerah dingin. 😀

Untuk sarapan yang disediakan disini berupa roti panggang dengan telur dadar atau telur orak-arik dilengkapi sosis dan tomat, cocok dikasih saus. Buat perut orang Indonesia tentunya makan seperti ini cuma masuk kategori camilan buat ganjal perut. Apalagi habis trekking pagi dari Bukit Campuhan, lapar. Plus malam harinya, nggak makan malam karena udah kecapean. Sementara minumannya ada pilihan beberapa jus seperti orange, lemon, melon, nanas. Oh ya, sebelum roti panggang disajikan kita disuguhi terlebih dahulu irisan buah-buahan (nanas, pepaya, semangka, pisang). Pisangnya enak! Sekedar info, rata-rata jam sarapan di Bali dimulai pukul 07.30 WITA.

Rencana setelah dari Bukit Campuhan dan sarapan di Ani’s Villa adalah mandi dan packing. Kemudian ke Museum Blanco Renaissance yang letaknya persis diseberang villa. Cukup jalan kaki aja. Ada apa di Museum Blanco? Tunggu ditulisan selanjutnya kalau penasaran…

Itinerary Liburan di Bali

Mau liburan ke Bali? Tapi belum ada rencana kemana? Atau bingung menentukan tujuan? Mungkin itinerary dibawah ini bisa dijadikan referensi.

Hari Pertama

  • Kawasan Bedugul-Pura Ulun Danu Beratan
  • Pura Taman Ayun
  • Bermalam di kawasan Ubud

Sedikit cerita di hari pertama ini memang sengaja tidak banyak destinasi karena perjalanan antar-lokasi agak lumayan jauh. Kalau kalian start dari Bandara Ngurah Rai bisa pilih ke Pura Taman Ayun dulu yang lebih dekat baru naik ke wilayah Bedugul. Namun berhubung tujuan terakhirnya adalah Ubud, jadi nggak masalah kalau ke Bedugul dulu karena arahnya juga balik lagi. Buat yang muslim, daerah Bedugul sangat cocok untuk beristirahat sejenak dan menjalankan shalat karena cukup banyak pilihan masjid yang dapat disinggahi.

Untuk penginapan kita sih dadakan aja, pesan sesaat sebelum menuju lokasi. Dan pilihan penginapan jatuh pada Ani’s Villas yang berada tepat di depan Museum Blanco Renaissance dan tidak jauh juga dari Bukit Campuhan. Review tentang Ani’s Villas menyusul ya. 🙂

Hari Kedua

Dari tujuan dihari kedua ini yang nggak tercapai adalah Tegalalang dan Pasar Sukawati cuma sekedar lewat aja. Untuk penginapan, dihari kedua kita memilih Grandmas Plus Hotel Seminyak. Letaknya nggak jauh dari Pantai Seminyak dan tempatnya cukup instagramable, cocok buat kalian yang suka OOTD-an. 😀

Hari Ketiga

  • Pantai Pandawa
  • Uluwatu
  • Pertunjukkan Tari Kecak
  • Penginapan dekat bandara

Untuk hari ketiga, kita melakukan perubahan rencana perjalanan menjadi Pantai Seminyak, Kuta, Jogger, Krisna Oleh-Oleh Khas Bali, dan deretan pantai daerah Uluwatu diantaranya Pantai Tegal Wangi, Pantai Balangan, Pantai Dreamland, Pantai Bingin, Pantai Suluban, dan Pantai Padang-Padang. Sayangnya, dihari ketiga ini banyak wacana-nya. Jadi yang terlaksana cuma Krisna Oleh-Oleh Khas Bali, Pantai Suluban, Uluwatu, dan pertunjukkan tari kecak. Satu lagi, dinner di daerah Jimbaran (g recommended kalau sisa duit g banyak).

Review Produk dan Belanja Online di The Body Shop

Review ini bukan merupakan ulasan berbayar ya, guys. Artikel dibuat dengan tujuan untuk menyeimbangkan trafik perbandingan pengunjung blog karena berdasarkan alexa jumlah gender yang nyasar ke blog ini antara laki-laki dan perempuan tidak seimbang. Jadi coba-coba lah sesekali posting tentang beauty dan brand yang akan saya bahas adalah The Body Shop.

Siapa sih yang nggak tau The Body Shop? Produk berasal dari Inggris yang merupakan pelopor produk kecantikannya menggunakan bahan alami ini begitu populer di dunia. Pemakai produk ini nggak cuma dari kaum hawa aja lho, kaum adam pun juga banyak yang tertarik.

Belanja Online The Body Shop
Untuk The Body Shop Indonesia, selain melalui website https://www.thebodyshop.co.id/ produk ini dapat dibeli melalui official store di Lazada, Shopee, dan Elevania. Berikut review pembelian online The Body Shop via Lazada dan web TBS. Baca Selengkapnya

Nyobain Kuliner Iga Sapi Bali di Jogja

Pecinta daging yang lagi di Jogja mana suaranya…
Dari sekian banyak kuliner daging-daging yang ada di Jogja, Iga Sapi Bali rasanya sayang untuk dilewatkan begitu saja saat kulineran di Jogja. Menu ini dapat foodies temukan di resto bernama Iga Sapi Bali yang berada di Jalan Umbul Permai, Mudal, Sariharjo, Ngaglik, Sleman.

Untuk menu Iga Sapi Bali tersedia Iga bakar bumbu Bali, Iga bakar madu, Iga bakar kecap, iga bakar spesial, iga penyet, dan iga kecombrang. Disini kami memesan iga bakar madu dan iga bakar special kecap. Menurut saya yang recommended untuk dicoba adalah iga bakar madu, rasanya manis pas cocok sesuai lidah orang Jogja. Kalau yang suka pedas mungkin bisa coba iga bakar bumbu Bali. Untuk iga bakar special kecap rasanya sedikit manis khas bumbu kecap, lebih manis iga bakar madu.

Penyajian makanan disini tidak membutuhkan waktu tunggu yang lama. Ditambah daging iga sapi yang cukup besar tersebut  matang merata dan cukup empuk. Satu porsi iga bakar dapat dinikmati oleh 2 orang. Porsi nasinya juga sangat banyak dan mengenyangkan. Dalam penyajiannya iga bakar dilengkapi dengan kuah yang diwadahkan terpisah. Kuahnya segar dengan rasa agak sedikit pedas. Selain olahan iga bakar, juga tersedia olahan iga lain seperti sop iga bali dan sop iga bening.

Kalau foodies tidak suka daging dan ingin mencoba kuliner khas Jogja atau kuliner tradisional, tempat ini juga menawarkan beberapa menu yang bisa dicoba seperti brongkos, mie lethek, mendoan tempe, garang asem, dan sayur asem. Tersedia juga ayam betutu dan bebek goreng bali. Berikut daftar menu yang tersedia di Iga Sapi Bali:

Tersedia juga kudapan, satu yang recommended untuk dicoba adalah bubur sumsum. Dari tampilannya saja cukup menarik, terdapat hiasan daun pandan dan sedikit warna ungu ditengah yang mempermanis penyajian. Tekstur buburnya cukup lembut dan rasa bubur sumsumnya sebelum dicampur dengan juruh (air gula) cukup gurih. Perpaduan rasa manis dari air gula dan gurihnya bubur sumsum saat dicampur begitu menyatu.

Area makan diresto ini cukup luas, ada area depan, tengah, dan belakang yang bergaya rumah joglo. Furniture kursi dan meja makan terbuat dari kayu yang cukup lebar dan nyaman untuk diduduki. Tersedia juga fasilitas mushola dilengkapi dengan alat sholat. Overall tempatnya cukup bersih dan nyaman sebagai tempat kumpul atau makan bareng teman maupun keluarga.

Bagi yang pengen lanjut kulineran di area Jalan Damai, cobain juga seafood di Kepiting Cak Gundul.

Masjid Sultan: Masjid Pertama di Singapura

Nama Masjid Sultan tentunya tak terdengar asing bagi para muslim yang berkunjung ke Singapura. Selain terletak di area yang strategis, masjid ini juga sangat dekat dengan area kuliner halal sekaligus menjadi titik utama masyarakat beragama islam di Singapura.

Masjid Sultan yang terletak di Kampong Glam ini merupakan masjid pertama yang dibangun di Singapura. Kampong Glam sendiri merupakan daerah yang dialokasikan Inggris untuk warga Melayu dan muslim sebagai ganti dari penyerahan kekuasaan atas Singapura kala itu kepada Inggris. Struktur masjid ini awalnya dibangun sekitar tahun 1824 yang diprakarsai sultan pertama Singapura bernama Sultan Hussein Shah.

Bangunan Masjid Sultan yang pertama berbentuk masjid tradisional nusantara dengan atap limas bersusun tiga. 100 tahun kemudian sekitar tahun 1924, dilakukan relokasi untuk membangun masjid baru yang lebih besar namun tak jauh dari masjid lama yang menjadi lokasi Masjid Sultan sekarang.

Masjid Sultan terdiri dari 2 lantai yang memiliki daya tampung mencapai 5000 jamaah. Lantai 1 untuk jamaah laki-laki dan lantai 2 untuk jamaah perempuan. Untuk tempat wudhu perempuan terletak dekat dengan gerbang masuk. Bagi jamaah perempuan, untuk naik ke lantai 2 masjid dapat menaiki lift atau tangga. Bangunan masjid dua lantai pakai lift sih baru nemu di Singapura ini, kalau dari informasi yang ditempel penggunaan lift untuk membantu difabel.

Saat pertama kali masuk ke Masjid Sultan karena ketidaktahuan dan kurangnya petunjuk serta pemandu di masjid ini jadi salah deh shalat di lantai 1. Setelah selesai shalat dapat teguran dari takmir masjidnya, huhuuu… Ibu-ibu yang berjalan sendirian pun ketika masuk cari tempat shalat juga masih banyak yang bingung mungkin karena kurang petunjuk.

Soal tampak luarnya Masjid Sultan sih nggak perlu dibahas ya, meskipun terletak diantara bangunan megah, tapi arsitektur masjid ini tak kalah megah. Dari area Bussorah Street, wisatawan dapat melihat kubah berwarna keemasan dari kejauhan yang begitu cantik. Untuk interior di dalam masjid rapi, apik, dan cukup nyaman untuk beribadah. Suasananya cukup tenang dan fasilitas seperti mukena juga tersedia. Dari jendela masjid lantai 2, jamaah dapat melihat pemandangan Bussorah Street yang merupakan area pertokoan dan restoran yang tertata.

6 Tempat Makan Sate Klatak Enak dan Murah di Imogiri

Bagi foodies yang sedang jalan-jalan ke Jogja pastinya kuliner tak kan menjadi bagian yang terlewatkan. Bergerak ke arah selatan kota Jogja, terdapat salah satu daerah yang menjajakan olahan makanan dari daging kambing. Yak, memasuki daerah Jejeran dimana merupakan jalur menuju wisata alam Imogiri, foodies dapat menemukan banyak warung yang memajang daging kambing dan alat pembakar sate.

Daerah Jejeran memang terkenal dengan sate klatak-nya. Ada yang belum tau tentang sate klatak? Sate klatak merupakan sate dari daging kambing muda yang hanya dibumbui dengan garam. Berikut tempat makan sate klatak di daerah Jejeran yang recommended untuk foodies singgahi:

  1. Sate Klatak Pak Pong 

    sate klatak Pak Pong

    Berbeda dengan sate pada umumnya yang biasa dihidangkan dengan tusuk dari lidi dan dilengkapi dengan bumbu kacang atau bumbu kecap, sate klatak Pak Pong disajikan dengan tusuk sate dari jeruji besi dan dihidangkan dengan kuah gulai. Untuk satu porsi sate klatak disini hanya berisi 2 tusuk saja plus nasi harga sekitar Rp 25.000,-. Cukup terjangkau bukan? Namun bila foodies berkunjung saat musim libur panjang atau weekend, harus sabar karena antrian cukup banyak dan bisa menunggu hingga 1-2 jam. Maklum saja karena makanan yang disajikan baru diolah ketika pesanan datang.

  2. Sate Klatak Pak Bari 

    sate klatak Pak Bari

    Siapa sih yang nggak tau Sate Klatak Pak Bari? Warung sate yang terletak di Pasar Wonokromo ini semakin populer setelah muncul dalam film AADC 2. Sate Klatak Pak Bari hanya dapat dijumpai saat malam hari, biasanya buka seusai magrib dan bisa saja habis sebelum pukul 21.00. Bila berencana untuk datang kesini usahakan datang se-awal mungkin agar tidak kehabisan. Untuk satu porsi Sate Klatak Pak Bari berisi 2 tusuk sate dengan potongan daging yang cukup besar. Pastinya walaupun cuma 2 tusuk sate plus nasi sudah cukup kenyang dan memuaskan. Foodies pun hanya cukup merogoh kantong sebesar Rp 20.000,- untuk 1 porsinya.

  3. Sate Pak Jupaini

    sate klatak Pak Jupaini

    Warung sate Pak Jupaini terletak tepat ditepi jalan Imogiri Timur Km. 10 Jejeran, tak susah untuk menemukannya karena terdapat plank besar yang menjadi penanda warung tersebut. Untuk satu porsi sate klatak disini juga berisi 2 tusuk sate dengan potongan daging yang pas. Yang khas dari penyajian sate klatak disini adalah dihidangkan dengan kuah santan berwarna kuning yang rasanya gurih sedikit asam.

  4. Sate Horor Pak Jono
    Seperti namanya yang horor, Sate Pak Jono ini buka hanya pada malam hari. Bagi foodies yang tidak kebagian sate Pak Bari bisa coba mlipir ke warung yang persis berada di sebelah Pasar Wonokromo. Dilengkapi dengan penerangan yang remang-remang makan sate disini rasanya jadi syahdu.
  5. Sate Mas Rangga
    Warung sate Mas Rangga buka mulai pagi hari pukul 07.00. Berada di sekitar Jalan Imogiri Km. 11, warung ini selalu ramai saat memasuki jam makan siang. Berbeda dengan warung sate lainnya yang hanya memberikan 2 tusuk sate disetiap porsinya, Sate Klatak Mas Rangga memberikan 6 tusuk sate. Minusnya disini sate klataknya tidak diberi pelengkap kuah. Namun rasa sate klataknya enak dan tingkat kematangannya pun sempurna.
  6. Sate Mbak Bella
    Sate Mbak Bella berada di depan warung Sate Mas Rangga, kedua warung sate ini selalu sama-sama ramai. Berbeda dengan sate klatak Mas Rangga yang tidak dilengkapi dengan kuah, sate Mbak Bella menawarkan sate klatak dengan gule atau tongseng. Untuk kuah tongsengnya gurih sedikit pedas. Dalam satu porsi terdapat 5 tusuk sate, tingkat kematangannya sempurna, namun dalam satu tusuknya terdapat potongan gajih.

Selain menawarkan sate klatak, warung-warung tersebut juga menawarkan olahan dari daging kambing seperti tengkleng, tongseng, gulai, dan nasi goreng kambing. Setiap warung memiliki ke khas an dan cita rasa tersendiri. Foodies suka sate klatak tempat siapa nih?

Jembatan Limpapeh: Jembatan Gantung Eksotis di Bukittinggi

Jalan-jalan di kawasan Kampung Cina Bukittinggi, terdapat salah satu ikon wisata cukup unik yang dapat dilihat saat melintas di Jalan Ahmad Yani. Jembatan sepanjang 90 meter dengan warna dominan merah dan kuning yang membentang diatas Jalan Ahmad Yani ini dikenal dengan nama Jembatan Limpapeh. Pada bagian tengah jembatan dapat terlihat atap gonjong dengan ornamen khas Minangkabau.

Jembatan gantung yang dibangun pada tahun 1995 ini merupakan jembatan penghubung antara 2 tempat wisata yakni Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan yang berada di bukit Cubadak Bungkuak dengan Benteng Fort de Kock yang berada di Bukit Jirek. Untuk mencoba melintas diatas Jembatan ini, kalian harus masuk ke salah satu diantara Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan atau Benteng Fort de Kock. Waktu itu saya masuk dari Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan, untuk tiket masuknya dikenakan Rp 10.000,-/orang. Cukup terjangkau bukan? Dengan membayar tiket masuk sekali saja, kita dapat akses ke 2 tempat wisata bersejarah. Dari atas Jembatan Limpapeh, pengunjung dapat melihat pemandangan kota Bukittinggi yang padat namun asri.

Bagi kalian yang suka foto-foto, jangan sampai kelewatan untuk mengabadikan obyek-obyek menarik yang dapat diambil dari kawasan Jembatan Limpapeh mulai dari pemandangan kota Bukittinggi yang dikelilingi pegunungan dan arsitektur dari jembatan ini. Dilihat dari atas maupun dari bawah jembatan ini memiliki point of view yang berbeda namun sama-sama menarik.

Tak ada salahnya juga mengabadikan Jembatan Limpapeh pada saat malam hari yang dihiasi dengan penerangan lampu yang menambah kesan cantik dan eksotis. Ingin bermalam disekitar bawah Jembatan Limpapeh? Tak perlu khawatir karena terdapat beberapa penginapan yang dapat disinggahi. Saat malam hari, disepanjang jalan Jalan Ahmad Yani dapat ditemukan aneka kuliner khas yang menarik untuk dicicipi seperti es tebak, martabak kubang, sate danguang danguang, kari kambing, nasi goreng, dan sekoteng. Hati-hati jangan sampai kalap, pengen beli dan nyicipin semuanya. 😀 Untuk menuju Jalan Ahmad Yani dari kawasan Jam Gadang, jaraknya tidak terlalu jauh (asalkan g nyasar) masih cukup terjangkau ditempuh dengan berjalan kaki.

 

Janjang Ampek Puluah: Satu dari Icon Wisata Sejarah di Bukittinggi

Aku belum mandi
tak tun tuang.. tak tun tuang..
tapi masih cantik juga..
tak tuang.. tak tuang..

Ada yang tau cuplikan lirik lagu diatas yang sempat populer beberapa waktu yang lalu ini? Jika kalian perhatikan video clipnya mengambil tempat di daerah sekitar Jam Gadang dan Pasar Atas Bukittinggi. Eits.. Tapi dipostingan kali ini, saya tidak akan membahas mengenai lagu tersebut tapi akan sedikit membahas salah satu tempat bersejarah yang tak jauh dari posisi video clip Tak Tun Tuang diambil yakni Janjang Ampek Puluah.

Janjang Ampek Puluah merupakan anak tangga yang menghubungkan antara Pasar Atas dan Pasar Bawah Kota Bukittinggi. Anak tangga yang juga dikenal dengan nama Janjang 40 ini dibangun pada tahun 1908 diawali dengan adanya kesepakatan Niniak Mamak di Luhak Agam yang bertujuan menghubungkan kawasan Pasar Atas (Ateh) dan Pasar Bawah. Jembatan ini dibangun atas perintah Asisten Residen Belanda Louis Constant Westenenk.

Tangga yang secara administratif terletak di Kelurahan Benteng Pasar Atas, Kecamatan Guguk Panjang, Kota Bukittinggi ini dibangun lebih dulu ketimbang Jam Gadang. Walaupun letak Pasar Atas dan Pasar Bawah berdekatan namun terpisah oleh bentuk tanah sebab Bukittinggi memiliki topografi yang tidak rata dan berbukit. Keberadaan tangga ini sangat membantu penataan pasar dan menghubungkan kedua pasar tersebut.

Perlu diketahui bahwa tangga 40 ini ternyata jumlah anak tangganya kurang lebih sekitar 100 undakan bila dihitung mulai dari bawah hingga puncak. Disekitar tangga ini terdapat surau yang cukup cantik. Kabarnya, sekarang dibagian bawah Janjang Ampek Puluah ini dilengkapi dengan gapura bertuliskan “Janjang Ampek Puluah” dan beberapa bagian pertengahan anak tangga juga diberi tanaman yang menambah ke-asri-an tempat ini.

Bagi yang suka jepret-jepret atau fotografi, sudut-sudut di Janjang Ampek Puluah ini sangat cocok menjadi obyek bidikan kamera. Memandang sekitar area Tangga 40 ini pun juga menarik. Walaupun datang saat siang hari, beberapa spot tetap teduh karena sinar matahari terhalang oleh tembok bangunan yang ada di sekitar tangga.

Newer entries » · « Older entries