Archive for Travel

Krishna Pusat Oleh-Oleh Khas Bali Buka 24 Jam

Krishna Pusat Oleh-Oleh Khas Bali adalah salah satu rekomendasi tempat buat beli oleh-oleh khas Bali yang buka 24 jam. Di toko ini tersedia beragaman makanan dan souvenir khas Bali yang menarik untuk dijadikan sebagai buah tangan. Mau cari pie susu? kacang asin? manisan salak? brem? aneka kripik dan dodol buah-buahan? Semuanya ada disini. 🙂

Kalau souvenir, ada angklung kecil cuma Rp 15.000 sebenarnya pengen beli, cuma saya masih agak trauma sama angklung berkaitan dengan kejadian mistis waktu dirumah lama. Hehehe… Lainnya ada kaos, sandal, kalung, gelang, jepit rambut bentuk bunga kamboja, gantungan kunci, tas rajut, tas kain, minyak aroma terapi, produk bali ratih, dan masih banyak lagi lainnya.

Di Krishna juga bisa ditemukan tas ate bulat yang lagi hits lho. Buat yang takut nawar atau kemahalan ketika beli di area tempat wisata, disini kalian bisa dapatkan. Harganya waktu liat-liat yang diameter paling kecil Rp 199.000,-.

Nah, bagi yang baru mau coba-coba kripik-kripik atau manisan yang ditawarkan di Krishna Pusat Oleh-Oleh Khas Bali, intip dulu sedikit review ini siapa tau bisa membantu buat kamu yang lagi bingung pilih-pilih:

  • Kripik salak (recommended)
  • Kripik rambutan (recommended) – kering, empuk, rasanya manis asem-asem
  • Kripik buah nanas (kurang recommend) – kering, agak alot dan agak keras (seratnya tebal), rasanya asem
  • Dodol Bali (kurang recommend) – rasanya seperti jajanan jaman dulu, mirip kethak (ampas minyak kelapa yang dibungkus kertas minyak)
  • Brem Bali (kurang recommend) – isinya cuma dikit, tidak sebanding dengan besarnya bungkus
  • Manisan tomat (kurang recommend) – isinya dikit, rasa dan teksturnya seperti kurma
  • Kacang Asin Rahayu (recommend)
  • Kacang Asin Sariayu (recommend)
  • Kacang Disco (recommend)
  • Kacang Mete Madu (recommend)

Kalau kalian suka sambal matah dan keripik singkong, cobain juga camilan dari rasa lokal Indonesia. Cocol-cemil! Manis asin pedes, jadi satu nano-nano.. Perpaduan keripik singkong dan sambal matah asli Bali beneran enak menghipnotis, nagih. 😀 Harganya juga terjangkau Rp 27.500,-.

Selain makanan, sisanya saya memilih beberapa barang kecil yaitu tatto nail art, tempelan kulkas berbentuk pulau Bali, dompet/tas kecil, dan gantungan kunci pemotong kuku Uluwatu. Harga barang unyu-unyu ini berkisar antara Rp 8.000- Rp 25.000,-.

Setiap pengunjung yang masuk ke toko Krishna ini pasti akan ditempeli stiker nomor dibaju. Sampai pas udah diluar dan mau masuk lagi ditempelin stiker dulu. Bagi teman-teman muslim, disini juga tersedia mushola yang cukup nyaman berada di dalam toko.

Krishna Pusat Oleh-Oleh Khas Bali yang buka 24 jam terletak di Jl. Raya Tuban No.2X, Tuban, Kuta, Kabupaten Badung. Karena letaknya berada di wilayah yang cukup strategis, tak sulit untuk menemukan keberadaan toko ini. Selain itu, aksesnya jalannya juga dekat dengan bandara dan dekat juga dari Jogger.

Advertisements

Suka Pedas? Cobain Pedasnya Kuliner Jogja, Sate Petir Pak Nano!

Jogja, banyak orang merasa makanan Jogja itu manis sampai gudeg aja dibilang mirip kolak. Eits jangan salah ya, Jogja nggak cuma menawarkan kuliner yang cenderung manis saja lho. Bagi foodies yang hobi kulineran dan ingin mencari kuliner pedas khas Jogja, cobain deh Sate Petir Pak Nano yang terletak Dusun Menayu, Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul.

Tak sulit untuk menemukan keberadaan warung ini karena letaknya yang berada ditepi jalan yang merupakan jalan lintas Jogja-Jateng (Purworejo/Magelang/Kebumen). Kalau dari arah selatan perempatan Dongkelan tinggal ambil arah kiri/Barat terus. Tepat sebelum jembatan, disitu terdapat rumah yang sekaligus menjadi warung Sate Petir Pak Nano.

Warung Sate Petir Pak Nano buka pada siang hari sekitar pukul 12.00 hingga pukul 17.00. Warung ini menawarkan sate dan tongseng dengan level kepedasan mulai dari PAUD, TK, SD, SMP, SMA hingga Profesor. Inilah salah satu keunikan yang ditawarkan oleh Pak Nano, level pedas berupa jenjang pendidikan.

Kalau kalian nggak suka pedas bisa juga pesan nggak pedas, tapi rasanya kurang greget. Yang enak emang kalau ada pedes-pedesnya. Untuk tongseng, rasa kuahnya pedes ada asem-asemnya. Nano.. Nano banget.. Tenang, pedesnya cuma ngefek di indra pengecapan aja kog, nggak sampai bikin mules. Sementara itu, untuk satenya satu porsi terdiri dari 5 tusuk sate dengan bumbu kecap bertabur biji cabe. Daging sate dari Sate Petir Pak Nano ini cukup empuk dan matang.

Untuk minuman, tersedia minuman dingin kemasan yang dapat diambil dari kulkas pendingin. Bila kalian ingin bernostalgia dengan minuman saparella, disini juga tersedia lho. Ada juga jajanan lawas seperti mie-mie an (merknya lupa). Kalau kepedesan bisa juga dijadikan sebagai penawar. 😀

Cocok banget nih, buat yang laper sehabis main di Pantai Parangtritis dan balik ke arah utara, bisa mampir dulu untuk istirahat di Sate Petir Pak Nano. Selain Sate Petir Pak Nano, kuliner Jogja yang pedas juga dapat ditemukan di Enthok Slenget Kang Tanir dan Iga Sapi Bali.

Museum Blanco Renaissance: Salah Satu Museum Terkenal di Ubud

Selain memiliki daya tarik wisata alam, Ubud juga menawarkan wisata seni dan budaya. Kebetulan banget, waktu di Ubud kita tinggal di daerah Sayan tepatnya penginapan bernama Anni’s Villas yang persis berseberangan dengan sebuah museum kenamaan di Ubud yang dikenal dengan nama Museum Blanco Renaissance.

Museum Blanco Renaissance merupakan museum yang menampilkan hasil karya lukis dari Antonio Blanco. Obyek dari lukisan maestro lukis kelahiran Manila, Filipina ini fokus pada kaum hawa/kemolekan penari Bali. Don Antonio Blanco sendiri adalah pria keturunan Amerika – Spanyol dan memang bukan orang Indonesia. Ia menetap di Bali dan menikahi seorang gadis penari tradisional Bali bernama Ni Ronji pada tahun 1953. Selain menampilkan hasil karya lukisan Antonio Blanco, museum ini juga menampilkan foto keluarga Antonio Blanco, hasil karya Mario Blanco, dan membuka studio yang merupakan tempat melukis dari Mario Blanco.

Mario Blanco adalah salah satu anak dari Antonio Blanco yang mewarisi bakat sang ayah. Namun karya Mario Blanco lebih fokus pada obyek benda-benda yang ada di sekitar. Dari hasil karya tersebut, Mario Blanco juga telah banyak menerima beragam penghargaan.

Lukisan dari Antonio Blanco dapat dilihat di lantai satu dan dua dari gedung utama. Sementara itu, hasil karya dari Mario Blanco terletak pada bangunan kecil setelah area yang menampilkan foto-foto keluarga.

salah satu sudut dari taman museum

Museum Blanco Renaissance terletak di Jalan Raya Penestanan No.8, Sayan, Ubud, Gianyar. Bangunannya yang berada di atas bukit dan tepian Sungai Campuhan menjadikan lingkungan sekitar museum terasa asri dan menyejukkan. Tanah tempat berdirinya museum ini adalah pemberian dari Tjokorda Gde Agung Sukawati, Raja Ubud terakhir dari Puri Saren (1910-1978). Sebelum memasuki bangunan utama dari ruang pamer lukisan, pengunjung dapat menjumpai burung-burung cantik dan pepohonan yang cukup rindang. Bagi yang suka foto-foto, boleh juga kalau mau foto dengan burung yang ada disini.

Harga tiket masuk Museum Blanco Renaissance Rp 30.000,- per orang untuk wisatawan domestik. Dengan harga tiket tersebut, pengunjung mendapat segelas air minum yang dapat diambil setelah berkeliling museum untuk duduk-duduk dibawah pohon rindang taman sambil menikmati udara dan suasana sekitar yang tenang dan nyaman.

pintu masuk museum

Note:

  • Museum ini kurang cocok dikunjungi bersama anak-anak.
  • Selama berkeliling area pamer lukisan, dilarang untuk mengambil foto.

Dinner Seafood Tepi Pantai Jimbaran

Destinasi penutup dari liburan di Bali ini ditutup dengan makan malam di tepi pantai Jimbaran. Seusai pertunjukkan Tari Kecak di Uluwatu pukul 19.50, kami pun langsung menuju Jimbaran. Untuk agenda yang satu ini dadakan aja jadi sambil jalan, searching tempat mana yang recommended. Dalam pencarian nemu nama Bali Cafe 21.

Masuk parkiran area resto, kami pun disambut oleh seseorang kemudian mengantarkan untuk memilih menu dan membuka-kan halaman pertama buku menu, tertera harga beragam ikan per kg harganya sih masih lumayan. Lanjut buka lembar berikutnya, tertera harga paket. Agak kaget dengan harga  sepaketnya paling murah Rp 900.000,-. Mas-mas tersebut pun bilang ini harga untuk wisatawan asing, kalau buat orang lokal Rp 500.000,- aja. Sempet nawar, Rp 400.000,- aja gimana? Kalau Rp 400.000,- nggak dapat kepiting nanti.

Akhirnya, deal dengan harga paket Rp 500.000,-. Langsung ngeluyur deh milih tempat duduk yang paling deket sama pantai. Waktu memasuki bagian depan resto sepi banget, nggak ada pengunjung satu pun. Lanjut ke tempat makan yang beralaskan pasir pantai, sama aja nggak ada pengunjung lain. Jadi suasananya cukup tenang.

Cahaya penerang di meja makan yang cukup minimalis memang memberikan kesan romantis ditambah semilir angin yang tenang menambah rasa syahdu. Dari Bali Cafe 21, kita dapat melihat kerlip-kerlip lampu pemukiman yang ada di sebelah kiri dan area landing pesawat di sebelah kanan. Sementara itu, dihadapan kita terlihat ombak kecil yang berdesir. Samar-samar dari kejauhan juga terdengar live music. Beruntung sih dapat tempat ini jadi nggak terlalu bising.

Satu per satu makanan pun tiba…

Pertama minuman (welcome drink berupa teh manis), lanjut kelapa muda dan jus. Lalu datang nasi satu bakul, sup jagung, tumis kangkung, disusul seafood. Beginilah penampakan menu dinner seafood di Pantai Jimbaran. Silahkan nilai sendiri..

Mari diicip, untuk rasa makanannya lumayan dilidah. Kepiting kecil bernilai Rp 100.000,- dagingnya kurang berasa, tapi saosnya lumayan enak.Di akhir sebagai penutup, disajikan buah berupa semangka dan melon. Over all, untuk makanan disini kurang worth it. Tapi sup jagungnya tergolong enak! Kalau suasana buat dinner romantis bisa lah ya. Di lain waktu, kalau ada kesempatan ke Bali lagi pengen nyobain The Pirates Bay Bali.

Menyaksikan Pertunjukkan Tari Kecak Berlatar Sunset Eksotis di Uluwatu

Setelah di hari kedua, menyaksikan pertunjukkan Tari Kecak di Tanah Lot. Kami pun penasaran untuk menyaksikan pertunjukkan Tari Kecak di Uluwatu. Dari segi kepopuleran, pertunjukkan di Uluwatu lebih banyak ulasan yang menyatakan kepuasan ditambah lagi view area yang berada di atas tebing menghadap samudra dan bertepatan dengan sunset, sangat disayangkan rasanya untuk dilewatkan saat berlibur ke Bali.

Pertunjukkan Tari Kecak di Uluwatu dimulai pukul 18.00, namun mulai pukul 16.30 kerumunan antrian tiket sudah sangat ramai dan pukul 17.00 penonton sudah memadati tempat duduk di area pertunjukkan. Masuk lebih awal memiliki keuntungan bisa memilih tempat duduk yang sesuai dengan keinginan. Saat menunggu pertunjukkan Tari Kecak dimulai, hangatnya matahari sore dapat kita rasakan karena posisi tempat duduk berhadapan langsung dengan matahari yang menuju ufuk barat.

kerumunan antrian tiket Tari Kecak Uluwatu

Tak disangka ternyata penonton membludak, sampai pertunjukkan akan dimulai penonton sudah memadati area hingga bagian yang digunakan untuk menari. Tak sampai disitu saja, ditengah pertunjukkan masih banyak orang yang datang sampai padat sekali. Yang sangat disayangkan dari Tari Kecak di Uluwatu ya ini, bagian pengaturan kapasitas penonton sepertinya kurang diperhitungkan.

Durasi pertunjukkan Tari Kecak di Uluwatu lebih lama ketimbang Tari Kecak di Tanah Lot, hampir 1 jam sendiri. Pertunjukkan Tari Kecak di Uluwatu ini lebih terasa hidup. Karena penarinya berinteraksi dengan penonton dan ada humor yang ditampilkan oleh tokoh pemain.

Beberapa atraksi yang mencuri antusias penonton diantaranya saat Hanoman naik ke pintu masuknya penari, sempat juga Hanoman naik ke bangku penonton dan berinteraksi menggoda penonton, ada juga wisatawan asing yang ditarik untuk ikut menari dengan 3 penari lainnya. Penasaran seperti apa keseruannya? Temukan dan rasakan langsung saat menyaksikan pertunjukkan Tari Kecak Uluwatu ini.

Tips saat bepergian ke Uluwatu:

  1. Siapkan uang pecahan kecil Rp 1.000,- (untuk kendaraan bermotor roda dua) sebelum memasuki loket retribusi parkir. Jangan sampai kelamaan mencari uang kecil didepan pos karena bila antrian panjang dapat menghambat arus masuk tempat wisata.
  2. Jangan meninggalkan barang apapun dimotor karena bisa hilang diambil monyet. Selain itu, hindari pemakaian kacamata dan topi yang dapat memancing monyet untuk mengambil barang tersebut.
  3. Apabila ingin menonton pertunjukkan Tari Kecak, datanglah lebih awal untuk membeli tiket dan bila tiket sudah ada ditangan segera lah untuk menuju bangku penonton.
  4. Ada baiknya untuk memakai pakaian sopan dan tertutup. Bagi kalian yang memakai pakaian kurang tertutup, di loket masuk akan diminta untuk memasang kain berwarna ungu. Sementara bagi yang sudah memakai pakaian tertutup, cukup memasang kain pendek seperti ikat pinggang yang berwarna orange.

Semoga membantu kalian yang akan berkunjung ke Uluwatu.

Note:

  • Harga tiket masuk Uluwatu Rp 20.000,- per orang
  • Harga tiket pertunjukkan Tari Kecak Rp 100.000,- per orang

Jalan Sore ke Pantai Suluban, Uluwatu Bali

Rindu pantai…
Lama rasanya nggak main ke pantai,
setelah hari kedua menyentuh pasir hitam pantai Tanah Lot walaupun nggak lama tapi cukup terpuaskan dengan nuansa waktu sunsetnya.

Hari ketiga karena tujuan sunset adalah Uluwatu maka ada deretan rencana mengunjungi pantai pasir putih searah menuju Uluwutu diantaranya

  • Pantai Tegal Wangi,
  • Pantai Balangan,
  • Pantai Dreamland,
  • Pantai Bingin,
  • Pantai Suluban, dan
  • Pantai Padang-Padang.

Ternyata.. Oh, ternyata…
Deretan pantai yang sudah direncanakan untuk dikunjungi pun buyar cuma jadi wacana. Sangat disayangkan padahal cuaca cerah, kenapa itu terjadi? Ya, karena stuck di satu tempat sebelum menuju Uluwatu. Start perjalanan baru dimulai pukul 15.30 karena nggak memungkinkan untuk menuju plan diawal. Cap..cip..cup.. dari banyak deretan pantai tersebut harus pilih satu saja. Dan akhirnya dengan pasrah menuju Pantai Suluban yang berlokasi paling dekat dengan destinasi wisata Pura Uluwatu, Bali.

Sampai di Pantai Suluban waktu sudah menunjukkan pukul 16.00-lebih, memasuki pertengah jalan saat menuruni tangga, travelmate bilang kalau pernah kesini karena cuma ikutan bule-bule berpapan seluncur. Nggak tau deh dejavu apa beneran. 😀 Tapi memang Pantai Suluban ini dikenal sebagai tempat favorit untuk berselancar karena ombak disini cukup menantang.

Selain menawarkan tantangan bagi peselancar, pantai yang dikenal juga dengan nama Blue Point ini memiliki keindahan pemandangan dengan kombinasi pantai pasir putih yang berada diantara karang-karang besar. Pantai ini terlihat teduh dan terasa adem karena adanya bebatuan karang yang seolah-olah berperan seperti pohon yang rindang ditengah terik matahari. 😀

Waktu disini nggak banyak spot yang kita explore karena keterbatasan waktu. Gpp g lama-lama, bisa nyampe ke pantai ini aja udah cukup melegakan. Bagi kalian yang blusukan menyusuri bawah tebing karang dan berada dekat dengan pantai harap berhati-hati ya apalagi kalau nggak bawa ganti karena ombak cukup besar bisa datang kapan saja menghampiri.

Tetes-tetes air yang dingin pun dapat kita rasakan saat menyusuri bawah tebing karang. Berlokasi dekat dengan Uluwatu, di Pantai Suluban juga dapat kita jumpai monyet-monyet kecil yang terkadang berlarian melintas. Hal ini tentunya juga menjadi daya tarik tersendiri.

Pukul 16.30, kita mulai kembali menaiki anak tangga menuju parkiran untuk langsung lanjut ke destinasi selanjutnya yaitu sunset Uluwatu sambil nonton pertunjukkan Tari Kecak. Berat sekali rasanya menaiki anak tangga Pantai Suluban, efek nggak pernah olahraga. Kalau pas liburan gini jadi kayak peribahasa sekali mendayung dua-tiga pulau terlampaui karena pikniknya dapet, olahraga pun iya. 😀

Sering-sering piknik yuk biar sehat badan dan pikiran. 🙂

Di Pantai Suluban terdapat loket pintu masuk namun waktu kesini tidak ada penjagaan dan bangunan loketnya seperti tidak pernah digunakan. Untuk parkir motor tersedia persis dijalan menuju turun anak tangga. Nggak tau kenapa, waktu kita ambil motor nggak ditagih buat bayar atau memang gratis jadi ya udah bablas aja.

Tari Kecak Tanah Lot

Hari kedua di Bali,
setelah perjuangan berat menaiki tangga dari Air Terjun Tegenungan, kita lanjut meluncur menuju Tanah Lot. Niatnya sampai sore buat liat sunset. Saat menunggu waktu matahari tenggelam sambil duduk-duduk di rumput ala orang piknik terdengar informasi bahwa akan ada pertunjukkan Tari Kecak setelah matahari tenggelam. Tiket dapat dibeli dibagian informasi dengan harga Rp 50.000/orang. Kita pun mulai mencari dimana loket informasi penjualan tiket pertunjukkan Tari Kecak Tanah Lot. Lokasinya berada dipertengahan jalan masuk menuju Tanah Lot, ada papan yang terpampang dekat restoran yang juga menawarkan gelato.

Tiket sudah ditangan tinggal menunggu waktu pertunjukkan. Seperti tujuan awal ke Tanah Lot untuk menyaksikan sunset, kita pun menuju spot paling ramai yang menghadap Pura Batu Bolong. Di area ini, terdapat beberapa tempat duduk yang memang disiapkan untuk pengunjung. Kita pun menempati tempat duduk yang persis berhadapan dengan Pura Batu Bolong. Tak disangka saat sunset dan nengok ke belakang ramainya luar biasa. Kayaknya ini sunset dengan penonton paling rame yang pernah ada dihidupkuuuh.

Usai matahari tenggelam, segeralah kita menuju area pertunjukkan Tari Kecak Tanah. Pertunjukkan dimulai sekitar 18.30. Bangku penonton tidak terlalu ramai. Hal ini yang cukup menyenangkan karena kita bisa menikmati pertunjukkan. Sayangnya, selama pertunjukkan berlangsung ada nyamuk-nyamuk yang mengganggu.

Cerita Tari Kecak ini mirip Sendratari Ramayana. Yang membedakan kalau tari kecak diiringi musik yang berasal dari paduan suara. Kalian tentunya sudah tau kalau dalam pertunjukkan tari ini terdapat banyak penari laki-laki yang terlibat. Pada pertunjukkan Tari Kecak di Tanah Lot ini terdapat sekitar 20 orang dan juga beberapa tokoh yaitu Rama, Sinta, Kijang Emas, Laksamana, Rahwana, Burung Jetayu, dan Hanoman.

Alur cerita Tari Kecak Tanah Lot:

Rama dan Sinta berada ditengah hutan, datanglah seekor kijang emas yang lucu. Karena lucu maka Sinta memohon pada Rama untuk menangkapnya.

Rama tak berhasil menangkap kijang tersebut maka Rama meminta adiknya Laksamana untuk menjaga Sinta. Dalam perburuannya, terdengar suara minta tolong seperti suara Rama maka Laksamana membuat lingkaran api untuk menjaga Sinta.

Datanglah Rahwana menggoda Sinta. Karena kesaktian Laksamana maka Rahwana tidak bisa mendekati Sinta. Rahwana raja yang banyak mempunyai akal maka berubahlah menjadi pendeta/orang suci. Dan Rahwana berhasil membawa Sinta ke Kerajaan Alengka dan semua raksasa berpesta pora merayakan kemenangan.

Dalam pengejarannya, Rama dan Laksamana bertemu dengan Rahwana di hutan. Rahwana dengan kesaktiannya mengeluarkan naga yang melilit Rama dan Laksamana. Datanglah burung yang sangat besar untuk membantu Rama dan Laksamana dari lilitan naga tersebut. Burung itu bernama Burung Jetayu.

Sinta sedang berada di Kerajaan Alengka dalam keadaan sedih ditemani oleh dayang. Datanglah seekor kera putih yang bernama Hanoman dengan memperlihatkan cincin maka Sinta percaya Hanoman adalah utusan Rama. Hanoma dengan ganasnya merusak taman dan Negara Alengka maka marahlah Rahwana. Dengan kesaktiannya, Hanoman dapat ditangkap dan dibakar. Hanoman pun dapat lolos dari kobaran api dan terjadilah peperangan antara Rahwana melawan Rama. Dalam peperangan tersebut, akhirnya Rama bisa mendapatkan Sinta kembali.

Begitulah ceritanya, pertunjukkan berlangsung sekitar 30 menit.Rasanya sih sebentar banget udah kelar maka dari itu di hari ketiga kita pasang plan untuk liat Tari Kecak yang ada di Uluwatu.

Air Terjun Tegenungan: Pilihan Wisata Alam di Gianyar

Keindahan alam Pulau Dewata, Bali memang sudah tidak diragukan lagi. Selain menawarkan pantai dengan sunset yang menawan, Bali juga memiliki daerah perbukitan dengan pemandangan yang hijau dan suasana yang sejuk. Suasana tersebut dapat ditemukan, salah satunya di daerah Ubud Bali. Daerah dimana kami memilih untuk bermalam.

Tak kalah dari Ubud, daerah Gianyar juga menawarkan wisata alam yang menarik untuk dikunjungi. Salah satunya yaitu Air Terjun Tegenungan. Air terjun ini adalah air terjun yang berada di kawasan dataran rendah, tidak seperti air terjun lainnya yang berada di kawasan dataran tinggi.

Ya, setelah trekking pagi di Bukit Campuhan dan jalan ke Museum Blanco Renaissance kemudian checkout dari Ani’s Villas, saya dan travelmate yang sebelumnya berencana untuk ke Tegalalang langsung memilih untuk menuju Air Terjun Tegenungan karena berkejaran dengan waktu.

Air Terjun Tegenungan berada di Desa Kemenuh, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar, yang berjarak sekitar 35 km dari Kuta dan dapat dijangkau selama 1 jam perjalanan dengan menaiki kendaraan bermotor. Sedangkan dari Denpasar, berjarak sekitar 20 km. Karena tidak ada transportasi umum yang melewati jalur tersebut maka untuk menuju air terjun ini harus menaiki kendaraan pribadi maupun menyewa kendaraan. Karena kita dari daerah Ubud jaraknya lebih dekat lagi sekitar 12 km yang dapat dijangkau dengan waktu tak sampai 30 menit.

Pertama kali tau tempat ini dulunya dari blognya Mas Wijna dan akhirnya bisa kesini menyaksikan langsung keindahannya. Air terjun setinggi 4 meter ini tidak berada di tepi jalan, untuk sampai ke lokasi diperlukan sedikit perjuangan karena harus berjalan menuruni anak tangga. Rasa lelah akan terbayar begitu sampai di bawah Air Terjun Tegenungan yang memiliki air jernih dengan debit yang deras. Disini kalian dapat menikmati hijaunya pemandangan dan sejuknya alam sambil berenang atau sekedar bermain air. Letaknya yang berada dikawasan pedesaan dan jauh dari keramaian membuat tempat ini sangat tenang, jauh dari kebisingan.

Tak jauh dari air terjun dapat ditemukan pura dan pancuran air yang berasal dari mata air. Bagi kalian yang ingin menuju Air Terjun Tegenungan disarankan untuk membawa minuman. Turun tangga menuju area air terjun dan aliran sungai tidak terlalu berat. Namun ketika kembali ke atas, butuh usaha dan tenaga maksimal. Cobain sendiri deh buat merasakan sensasinya! Yang pernah kesini tulis dikomentar ya, rasanya naik tangga dari bawah untuk kembali ke area parkir, 😀

Sementara itu, di seberang sungai terdapat ayunan bertarif Rp 50.000,- yang dapat digunakan sebagai spot berfoto :D. Tak perlu khawatir harus basah untuk menuju area seberang karena terdapat jembatan bambu dan kayu yang saling menghubungkan. Selain bermain ayunan, kalian juga bisa trekking menuju area atas air terjun lho. Sayangnya untuk bagian yang ini kita nggak nyoba karena bawa tas ransel berat jadi harus hemat tenaga, hehehe…

Dibagian tepi sungai, kita dapat melihat batuan yang disusun-susun seperti yang pernah viral itu lho. Ternyata biar g ambruk dibagian tengah susunan bebatuannya ada yang dikasih bambu dan ada juga yang dibentuk dengan bantuan kawat.

Harga tiket masuk Air Terjun Tegenungan Rp 15.000 per orang untuk wisatawan lokal. Tempat wisata ini dibuka setiap hari mulai pukul 06.30 hingga 18.30 WITA. Area wisata sudah didukung dengan kamar mandi dan warung-warung yang menjajakan makanan, gelato, dan barang kerajinan khas Bali.

Jalan-Jalan Pagi di Bukit Campuhan (Campuhan Ridge Walk) Ubud

Bukit Campuhan adalah salah satu alasan bermalam di Ubud agar sore atau pagi-nya bisa jalan-jalan ke tempat yang termasuk cukup hits untuk foto dengan latar alang-alang. Pukul 05.30 WITA, masih cukup gelap untuk memulai perjalanan menuju bukit. Untungnya nggak jadi wacana, karena sebenarnya sore hari setelah sampai di penginapan Ani’s Villas bisa langsung kesini. Sayangnya, udah capek duluan jadi ya cuma leyeh-leyeh dikamar.

Pintu masuk menuju Bukit Campuhan atau yang dikenal juga dengan nama Campuhan Ridge Walk ini berada di Warwick Ibah Luxury Villas & Spa, dipercabangan dua jalan ambil jalan ke kiri. Kalau kalian membawa kendaraan bermotor bisa parkir di area sekolah.

Selain dengan berjalan kaki, untuk menuju jalur trekking dari Campuhan Ridge Walk dapat juga menggunakan sepeda. Namun, bila menaiki sepeda perlu angkat-angkat beberapa kali dikarenakan beberapa titik track berupa anak tangga.

Sedikit tips untuk kalian semua yang akan berkunjung ke Bukit Campuhan (Campuhan Ridge Walk) yaitu:

  • pakai alas kaki yang nyaman, lebih baik pakai sepatu
  • pakai celana/dresscode yang nyaman untuk jalan-jalan
  • bawa air putih
  • siapkan full baterai kamera untuk foto-foto 😀

Start pukul 05.30 memang masih gelap dan agak was-was takut kalau ada ular lewat. Sepertinya itu cuma ketakutan diri sendiri aja, alhamdulillah aman. Jam segitu juga udah ada wisatawan asing yang mulai trekking. Asyiknya jalan lebih pagi, area masih sepi bisa dinikmati sendiri. Waktu orang-orang baru datang, kita udah jalan balik.

Saat pagi hari, udara di Bukit Campuhan terbilang cukup sejuk. Pemandangan di Bukit Campuhan juga menyegarkan mata karena dikelilingi perbukitan hijau yang ditumbuhi pepohonan ditambah dengan lebatnya ilalang disamping kanan dan kiri area trekking. Tak jarang kumpulan ilalang tersebut dijadikan latar untuk berfoto. Perlu sedikit blusukan memang untuk berfoto dengan latar ilalang. Hati-hati karena daun ilalang agak tajam.

Untuk masuk ke area Bukit Campuhan (Campuhan Ridge Walk) tidak dipungut biaya alias free. Namun ada beberapa hal yang perlu diperhatikan seperti yang tertulis dipapan peringatan memasuki area Bukit Suci Gunung Lebah yang merupakan kawasan suci dan bersejarah.

Cari Penginapan dengan Harga Terjangkau di Ubud? Ani’s Villas Aja

Bila teman-teman mencari ketenangan saat bepergian wisata di Bali, cobalah untuk singgah dan bermalam di kawasan Ubud. Selain tenang, Ubud juga menawarkan banyak pilihan penginapan dengan view alam yang hijau. Bingung dengan pilihan yang ada? Salah satu penginapan di Ubud yang dapat kita rekomendasikan adalah Ani’s Villas.

Terletak ditepi Sungai Campuhan menjadi keunikan dan keistimewaan tersendiri yang dimiliki Ani’s Villas. Selain itu, lokasi Villa ini juga berdekatan dengan tempat-tempat menarik di Bali seperti Jembatan Tjampuhan, Museum Blanco Renaissance, dan Bukit Campuhan. Tidak ada salahnya juga bila hanya ingin menghabiskan waktu di beberapa spot villa ini sambil menikmati suasana alam ditemani suara aliran sungai yang syahdu.

Beberapa spot dan kegiatan yang dapat dilakukan di Ani’s Villa yaitu duduk-duduk di resto villa sambil membaca buku yang tersedia di setiap sudut ruang. Kebanyakan bukunya sih berbahasa inggris dan membahas tentang destinasi wisata Indonesia. Pilihan lainnya berenang di kolam renang, berendam air hangat di bath up, atau browsing di area resto. Wifi disini lumayan kenceng kog. Nggak ada salahnya juga kalau mau berkenalan dan berbincang-bincang dengan turis mancanegara sambil mengasah kemampuan berbahasa inggris karena kebanyakan memang yang tinggal disini bule-bule cantik. 🙂

Kamar penginapan di Ani’s Villas berada dalam bangunan seperti joglo. Satu joglo terdapat 2 kamar dengan kamar mandi dalam dan dilengkapi ruang tamu, kursi santai, dan dapur. Kamarnya ber-AC dan ditempat tidurnya diberi kelambu. Walaupun berada di sekitar tepi sungai, selama menginap disana nggak kelihatan satu nyamuk pun. Udara disini cukup dingin, AC nggak perlu nyala kecuali memang biasa tinggal di daerah dingin. 😀

Untuk sarapan yang disediakan disini berupa roti panggang dengan telur dadar atau telur orak-arik dilengkapi sosis dan tomat, cocok dikasih saus. Buat perut orang Indonesia tentunya makan seperti ini cuma masuk kategori camilan buat ganjal perut. Apalagi habis trekking pagi dari Bukit Campuhan, lapar. Plus malam harinya, nggak makan malam karena udah kecapean. Sementara minumannya ada pilihan beberapa jus seperti orange, lemon, melon, nanas. Oh ya, sebelum roti panggang disajikan kita disuguhi terlebih dahulu irisan buah-buahan (nanas, pepaya, semangka, pisang). Pisangnya enak! Sekedar info, rata-rata jam sarapan di Bali dimulai pukul 07.30 WITA.

Rencana setelah dari Bukit Campuhan dan sarapan di Ani’s Villa adalah mandi dan packing. Kemudian ke Museum Blanco Renaissance yang letaknya persis diseberang villa. Cukup jalan kaki aja. Ada apa di Museum Blanco? Tunggu ditulisan selanjutnya kalau penasaran…

« Previous entries