Posts Tagged ‘bali’

Dinner Seafood Tepi Pantai Jimbaran

Destinasi penutup dari liburan di Bali ini ditutup dengan makan malam di tepi pantai Jimbaran. Seusai pertunjukkan Tari Kecak di Uluwatu pukul 19.50, kami pun langsung menuju Jimbaran. Untuk agenda yang satu ini dadakan aja jadi sambil jalan, searching tempat mana yang recommended. Dalam pencarian nemu nama Bali Cafe 21.

Masuk parkiran area resto, kami pun disambut oleh seseorang kemudian mengantarkan untuk memilih menu dan membuka-kan halaman pertama buku menu, tertera harga beragam ikan per kg harganya sih masih lumayan. Lanjut buka lembar berikutnya, tertera harga paket. Agak kaget dengan harga  sepaketnya paling murah Rp 900.000,-. Mas-mas tersebut pun bilang ini harga untuk wisatawan asing, kalau buat orang lokal Rp 500.000,- aja. Sempet nawar, Rp 400.000,- aja gimana? Kalau Rp 400.000,- nggak dapat kepiting nanti.

Akhirnya, deal dengan harga paket Rp 500.000,-. Langsung ngeluyur deh milih tempat duduk yang paling deket sama pantai. Waktu memasuki bagian depan resto sepi banget, nggak ada pengunjung satu pun. Lanjut ke tempat makan yang beralaskan pasir pantai, sama aja nggak ada pengunjung lain. Jadi suasananya cukup tenang.

Cahaya penerang di meja makan yang cukup minimalis memang memberikan kesan romantis ditambah semilir angin yang tenang menambah rasa syahdu. Dari Bali Cafe 21, kita dapat melihat kerlip-kerlip lampu pemukiman yang ada di sebelah kiri dan area landing pesawat di sebelah kanan. Sementara itu, dihadapan kita terlihat ombak kecil yang berdesir. Samar-samar dari kejauhan juga terdengar live music. Beruntung sih dapat tempat ini jadi nggak terlalu bising.

Satu per satu makanan pun tiba…

Pertama minuman (welcome drink berupa teh manis), lanjut kelapa muda dan jus. Lalu datang nasi satu bakul, sup jagung, tumis kangkung, disusul seafood. Beginilah penampakan menu dinner seafood di Pantai Jimbaran. Silahkan nilai sendiri..

Mari diicip, untuk rasa makanannya lumayan dilidah. Kepiting kecil bernilai Rp 100.000,- dagingnya kurang berasa, tapi saosnya lumayan enak.Di akhir sebagai penutup, disajikan buah berupa semangka dan melon. Over all, untuk makanan disini kurang worth it. Tapi sup jagungnya tergolong enak! Kalau suasana buat dinner romantis bisa lah ya. Di lain waktu, kalau ada kesempatan ke Bali lagi pengen nyobain The Pirates Bay Bali.

Advertisements

Jalan Sore ke Pantai Suluban, Uluwatu Bali

Rindu pantai…
Lama rasanya nggak main ke pantai,
setelah hari kedua menyentuh pasir hitam pantai Tanah Lot walaupun nggak lama tapi cukup terpuaskan dengan nuansa waktu sunsetnya.

Hari ketiga karena tujuan sunset adalah Uluwatu maka ada deretan rencana mengunjungi pantai pasir putih searah menuju Uluwutu diantaranya

  • Pantai Tegal Wangi,
  • Pantai Balangan,
  • Pantai Dreamland,
  • Pantai Bingin,
  • Pantai Suluban, dan
  • Pantai Padang-Padang.

Ternyata.. Oh, ternyata…
Deretan pantai yang sudah direncanakan untuk dikunjungi pun buyar cuma jadi wacana. Sangat disayangkan padahal cuaca cerah, kenapa itu terjadi? Ya, karena stuck di satu tempat sebelum menuju Uluwatu. Start perjalanan baru dimulai pukul 15.30 karena nggak memungkinkan untuk menuju plan diawal. Cap..cip..cup.. dari banyak deretan pantai tersebut harus pilih satu saja. Dan akhirnya dengan pasrah menuju Pantai Suluban yang berlokasi paling dekat dengan destinasi wisata Pura Uluwatu, Bali.

Sampai di Pantai Suluban waktu sudah menunjukkan pukul 16.00-lebih, memasuki pertengah jalan saat menuruni tangga, travelmate bilang kalau pernah kesini karena cuma ikutan bule-bule berpapan seluncur. Nggak tau deh dejavu apa beneran. 😀 Tapi memang Pantai Suluban ini dikenal sebagai tempat favorit untuk berselancar karena ombak disini cukup menantang.

Selain menawarkan tantangan bagi peselancar, pantai yang dikenal juga dengan nama Blue Point ini memiliki keindahan pemandangan dengan kombinasi pantai pasir putih yang berada diantara karang-karang besar. Pantai ini terlihat teduh dan terasa adem karena adanya bebatuan karang yang seolah-olah berperan seperti pohon yang rindang ditengah terik matahari. 😀

Waktu disini nggak banyak spot yang kita explore karena keterbatasan waktu. Gpp g lama-lama, bisa nyampe ke pantai ini aja udah cukup melegakan. Bagi kalian yang blusukan menyusuri bawah tebing karang dan berada dekat dengan pantai harap berhati-hati ya apalagi kalau nggak bawa ganti karena ombak cukup besar bisa datang kapan saja menghampiri.

Tetes-tetes air yang dingin pun dapat kita rasakan saat menyusuri bawah tebing karang. Berlokasi dekat dengan Uluwatu, di Pantai Suluban juga dapat kita jumpai monyet-monyet kecil yang terkadang berlarian melintas. Hal ini tentunya juga menjadi daya tarik tersendiri.

Pukul 16.30, kita mulai kembali menaiki anak tangga menuju parkiran untuk langsung lanjut ke destinasi selanjutnya yaitu sunset Uluwatu sambil nonton pertunjukkan Tari Kecak. Berat sekali rasanya menaiki anak tangga Pantai Suluban, efek nggak pernah olahraga. Kalau pas liburan gini jadi kayak peribahasa sekali mendayung dua-tiga pulau terlampaui karena pikniknya dapet, olahraga pun iya. 😀

Sering-sering piknik yuk biar sehat badan dan pikiran. 🙂

Di Pantai Suluban terdapat loket pintu masuk namun waktu kesini tidak ada penjagaan dan bangunan loketnya seperti tidak pernah digunakan. Untuk parkir motor tersedia persis dijalan menuju turun anak tangga. Nggak tau kenapa, waktu kita ambil motor nggak ditagih buat bayar atau memang gratis jadi ya udah bablas aja.

Air Terjun Tegenungan: Pilihan Wisata Alam di Gianyar

Keindahan alam Pulau Dewata, Bali memang sudah tidak diragukan lagi. Selain menawarkan pantai dengan sunset yang menawan, Bali juga memiliki daerah perbukitan dengan pemandangan yang hijau dan suasana yang sejuk. Suasana tersebut dapat ditemukan, salah satunya di daerah Ubud Bali. Daerah dimana kami memilih untuk bermalam.

Tak kalah dari Ubud, daerah Gianyar juga menawarkan wisata alam yang menarik untuk dikunjungi. Salah satunya yaitu Air Terjun Tegenungan. Air terjun ini adalah air terjun yang berada di kawasan dataran rendah, tidak seperti air terjun lainnya yang berada di kawasan dataran tinggi.

Ya, setelah trekking pagi di Bukit Campuhan dan jalan ke Museum Blanco Renaissance kemudian checkout dari Ani’s Villas, saya dan travelmate yang sebelumnya berencana untuk ke Tegalalang langsung memilih untuk menuju Air Terjun Tegenungan karena berkejaran dengan waktu.

Air Terjun Tegenungan berada di Desa Kemenuh, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar, yang berjarak sekitar 35 km dari Kuta dan dapat dijangkau selama 1 jam perjalanan dengan menaiki kendaraan bermotor. Sedangkan dari Denpasar, berjarak sekitar 20 km. Karena tidak ada transportasi umum yang melewati jalur tersebut maka untuk menuju air terjun ini harus menaiki kendaraan pribadi maupun menyewa kendaraan. Karena kita dari daerah Ubud jaraknya lebih dekat lagi sekitar 12 km yang dapat dijangkau dengan waktu tak sampai 30 menit.

Pertama kali tau tempat ini dulunya dari blognya Mas Wijna dan akhirnya bisa kesini menyaksikan langsung keindahannya. Air terjun setinggi 4 meter ini tidak berada di tepi jalan, untuk sampai ke lokasi diperlukan sedikit perjuangan karena harus berjalan menuruni anak tangga. Rasa lelah akan terbayar begitu sampai di bawah Air Terjun Tegenungan yang memiliki air jernih dengan debit yang deras. Disini kalian dapat menikmati hijaunya pemandangan dan sejuknya alam sambil berenang atau sekedar bermain air. Letaknya yang berada dikawasan pedesaan dan jauh dari keramaian membuat tempat ini sangat tenang, jauh dari kebisingan.

Tak jauh dari air terjun dapat ditemukan pura dan pancuran air yang berasal dari mata air. Bagi kalian yang ingin menuju Air Terjun Tegenungan disarankan untuk membawa minuman. Turun tangga menuju area air terjun dan aliran sungai tidak terlalu berat. Namun ketika kembali ke atas, butuh usaha dan tenaga maksimal. Cobain sendiri deh buat merasakan sensasinya! Yang pernah kesini tulis dikomentar ya, rasanya naik tangga dari bawah untuk kembali ke area parkir, 😀

Sementara itu, di seberang sungai terdapat ayunan bertarif Rp 50.000,- yang dapat digunakan sebagai spot berfoto :D. Tak perlu khawatir harus basah untuk menuju area seberang karena terdapat jembatan bambu dan kayu yang saling menghubungkan. Selain bermain ayunan, kalian juga bisa trekking menuju area atas air terjun lho. Sayangnya untuk bagian yang ini kita nggak nyoba karena bawa tas ransel berat jadi harus hemat tenaga, hehehe…

Dibagian tepi sungai, kita dapat melihat batuan yang disusun-susun seperti yang pernah viral itu lho. Ternyata biar g ambruk dibagian tengah susunan bebatuannya ada yang dikasih bambu dan ada juga yang dibentuk dengan bantuan kawat.

Harga tiket masuk Air Terjun Tegenungan Rp 15.000 per orang untuk wisatawan lokal. Tempat wisata ini dibuka setiap hari mulai pukul 06.30 hingga 18.30 WITA. Area wisata sudah didukung dengan kamar mandi dan warung-warung yang menjajakan makanan, gelato, dan barang kerajinan khas Bali.

Cari Penginapan dengan Harga Terjangkau di Ubud? Ani’s Villas Aja

Bila teman-teman mencari ketenangan saat bepergian wisata di Bali, cobalah untuk singgah dan bermalam di kawasan Ubud. Selain tenang, Ubud juga menawarkan banyak pilihan penginapan dengan view alam yang hijau. Bingung dengan pilihan yang ada? Salah satu penginapan di Ubud yang dapat kita rekomendasikan adalah Ani’s Villas.

Terletak ditepi Sungai Campuhan menjadi keunikan dan keistimewaan tersendiri yang dimiliki Ani’s Villas. Selain itu, lokasi Villa ini juga berdekatan dengan tempat-tempat menarik di Bali seperti Jembatan Tjampuhan, Museum Blanco Renaissance, dan Bukit Campuhan. Tidak ada salahnya juga bila hanya ingin menghabiskan waktu di beberapa spot villa ini sambil menikmati suasana alam ditemani suara aliran sungai yang syahdu.

Beberapa spot dan kegiatan yang dapat dilakukan di Ani’s Villa yaitu duduk-duduk di resto villa sambil membaca buku yang tersedia di setiap sudut ruang. Kebanyakan bukunya sih berbahasa inggris dan membahas tentang destinasi wisata Indonesia. Pilihan lainnya berenang di kolam renang, berendam air hangat di bath up, atau browsing di area resto. Wifi disini lumayan kenceng kog. Nggak ada salahnya juga kalau mau berkenalan dan berbincang-bincang dengan turis mancanegara sambil mengasah kemampuan berbahasa inggris karena kebanyakan memang yang tinggal disini bule-bule cantik. 🙂

Kamar penginapan di Ani’s Villas berada dalam bangunan seperti joglo. Satu joglo terdapat 2 kamar dengan kamar mandi dalam dan dilengkapi ruang tamu, kursi santai, dan dapur. Kamarnya ber-AC dan ditempat tidurnya diberi kelambu. Walaupun berada di sekitar tepi sungai, selama menginap disana nggak kelihatan satu nyamuk pun. Udara disini cukup dingin, AC nggak perlu nyala kecuali memang biasa tinggal di daerah dingin. 😀

Untuk sarapan yang disediakan disini berupa roti panggang dengan telur dadar atau telur orak-arik dilengkapi sosis dan tomat, cocok dikasih saus. Buat perut orang Indonesia tentunya makan seperti ini cuma masuk kategori camilan buat ganjal perut. Apalagi habis trekking pagi dari Bukit Campuhan, lapar. Plus malam harinya, nggak makan malam karena udah kecapean. Sementara minumannya ada pilihan beberapa jus seperti orange, lemon, melon, nanas. Oh ya, sebelum roti panggang disajikan kita disuguhi terlebih dahulu irisan buah-buahan (nanas, pepaya, semangka, pisang). Pisangnya enak! Sekedar info, rata-rata jam sarapan di Bali dimulai pukul 07.30 WITA.

Rencana setelah dari Bukit Campuhan dan sarapan di Ani’s Villa adalah mandi dan packing. Kemudian ke Museum Blanco Renaissance yang letaknya persis diseberang villa. Cukup jalan kaki aja. Ada apa di Museum Blanco? Tunggu ditulisan selanjutnya kalau penasaran…