Tarif Parkir dan Tukang Parkir yang Semena-Mena

Beberapa waktu yang lalu saat sedang melintas di kawasan Alun-Alun Selatan saya tertarik untuk berhenti dan menikmati malam dengan berjalan-jalan sendiri di sekitar kawasan tersebut. Ya karena malam itu bukan malam libur dan jam masih menunjukkan pukul 19.00 WIB, jadi suasana memang belum terlalu ramai.

Alun-Alun Selatan Malam Hari

Alun-Alun Selatan Malam Hari

Seperti biasa, karena membawa motor saya memilih untuk memarkirkan motor di tepi jalan yang dijaga oleh tukang parkir. Setelah nyetandarke motor petugas parkir memberikan tiket dan meminta untuk dibayar langsung. Setelah saya lihat, tarif parkir bertuliskan Rp 3.000,- tetapi angka tersebut hasil coretan dengan spidol. Terlihat angka dalam tiket karcis yang asli bertuliskan Rp 2.000,-. Agak heran, kenapa angka disitu harus dirubah dengan tulisan berspidol seperti itu dan yang paling menyebalkan lagi tiket karcis tersebut adalah tiket bekas.

Saya sih gak perlu protes masalah itu ke petugas parkirnya secara langsung karena nilainya yang gak seberapa daripada ribut dan berujung yang tidak diinginkan, yasudahlah… Fenomena seperti ini sebenarnya sudah berlangsung lama dan tidak hanya terjadi di Alun-Alun Selatan saja tetapi juga di sejumlah tempat wisata seperti Malioboro,  Taman Sari, dan tempat ramai lainnya. Sampai pada saat musim libur sekolah waktu lalu, ada sebuah twit yang ditujukan @mbahKJogja seperti ini:

Tarif_Parkir_1

Dari hanya berkeliling sebentar dan mengambil beberapa foto dari beberapa sudut di Alun-Alun Selatan dan Plengkung Gading, saya merasa Jogja sudah berubah dan menjadi kurang nyaman. Ini baru masalah parkirnya lho.

Di tempat yang lain pun teman-teman saya juga mengalami tukang parkir yang semena-mena, dia menceritakan saat parkir membeli pulsa padahal gak sampai 5 menit. Tukang parkir diberi Rp 500,- e lha kog duitnya dibuang, saat ditanya “lha pinten pak?” Malah muni2 gak jelas. Duh, miris.. situ tukang parkir apa tukang palak sih? Udah parkir liar, gak pake karcis. Syukur2 udah dikasih, lha kog iseh ra trimo :((

Saya yakin, pihak terkait sebenarnya sudah tau masalah tersebut namun tidak segera menindak tegas. Semoga pihak terkait dapat segera bertindak dan tidak membiarkannya berlarut-larut karena hal kecil seperti ini sangat mengurangi kenyamanan saat bepergian terutama di daerah wisata.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: