Sejarah Perkembangan Studi Islam Di dunia muslim

Sejarah Perkembangan Studi Islam Di dunia muslim

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Sejarah Islam merupakan bidang studi Islam yang banyak menarik perhatian para peneliti, baik dari kalangan sarjana muslim maupun non muslim. Karena dari penelitian itu banyak manfaat yang dapat diperoleh dari penelitian tersebut.
Sementara itu, bagi para peneliti barat mempelajari sejarah Islam selain ditujukan untuk pengembangan ilmu, juga terkadang dimaksudkan untuk mencari kelemahan dan kekuatan umat Islam agar dapat dijajah dan sebagainya.
Disadari atau tidak, selama ini informasi mengenai sejarah Islam banyak berasal dari hasil penelitian sarjana barat. Hal ini terjadi karena selain masyarakat barat memiliki etos keilmuan yang tinggi, juga didukung oleh dana dan kemauan politik yang kuat dari para pemimpinnya. Sedangkan para peneliti muslim tampak disamping etos keilmuannya rendah, juga belum didukung oleh keahlian di bidang penelitian yang memadai, serta dana dan dukungan politik dari pemerintah yang kondusif.
Dari problematika di atas, kita sebagai pelajar muslim perlu untuk mempelajari ataupun meneliti sejarah perkembangan studi Islam di dunia muslim, barat dan juga di Indonesia.

PEMBAHASAN

Sejarah Perkembangan Studi Islam di Dunia Muslim

Studi Islam di dunia Islam sama dengan menyebut studi Islam di dunia muslim. Dalam sejarah muslim dicatat sejumlah lembaga kajian Islam di sejumlah kota. Maka uraian berikut adalah sejarah perkembangan studi Islam di dunia muslim.
Selama 350 tahun pertama (750-1258) kejayaan tersebut didominasi dan secara mutlak dikuasai sarjana-sarjana muslim. Sementara beberapa pusat kegiatan intelektual pra islam diluar Arabia yang berperan besar memajukan pendidikan didunia muslim dapat digambarkan sebagai berikut. Bahwa kemajuan pengetahuan dalam Islam tidaklah mungkin dipisahkan dari tradisi intelektual peradaban-peradaban terdahulu yang telah maju sebelum munculnya Islam. Berikut ini adalah beberapa kota yang merupakan pusat kegiatan intelektual sebelum dan menjelang datangnya Islam, yang berperan sebagai jembatan dalam proses penyerapan ilmu pengetahuan oleh umat islam.
1. Athena
Sebagai sebuah kota yang berada dibawah kekuasaan kerajaan besar Romawi Timur, Athena mengalami kemakmuran dan kemajuan budaya, serta menjadi salah satu pusat kegiatan intelektual Romawi. Sejumlah pusat pendidikan berdiri, filsafat dan ilmu-ilmu lain berkembang dengan baik. Dikota inilah Plato hidup dan mendirikan sebuah Akademi Filsafat yang belakangan berkembang menjadi museum Athena, tempat sejumlah ilmuwan dari berbagai bangsa dan agama mengembangkan ilmu pengetahuan. Pada tahun 529M. Kaisar Romawi Timur menutup Museum Athena dan sekolah-sekolah lain dan menutup Athena bagi filosof dan ilmuwan yang sebelumnya bebas keluar masuk atau menetap disana. Penutupan ini dilatarbelakangi oleh berbagai alasan, termasuk pandangan agama kaisar yang tidak terlalu menghormati ilmu pengetahuan dan ilmu-ilmu ekonomi. Hal itu menyebabkan para filosof dan ilmuwan memutuskan untuk pindah ke kota-kota lain di pantai sebelah Meditteranian karena kehilangan kebebasan akademis dan fasilitas di Athena. Eksodus ilmuwan ini membawa mereka lebih dekat ke Semenanjung Arabia tempat Islam akan lahir dan berkembang.

2. Aleksandria
Sebuah kota kuno dibangun sekitar abad ke 3 S.M. dan terletak di pantai Laut Tengah. Sama halnya dengan Athena, kota ini dulunya berada dibawah kekuasaan Romawi sampai menjelang datangnya Islam. Sejak abad pertama Masehi, Aleksandria telah menjadi pusat berkembangnya filsafat dan ilmu pengetahuan Yunani bersama dengan pengetahuan yang berasal dari India dan Cina maupun Mesir Kuno sendiri. Dukungan yang diberikan oleh para kaisar di Konstantinopel melatarbelakangi kemajuan Aleksandria yang berlangsung sekitar 5 abad. Kejayaan ini didukung oleh ilmuwan-ilmuwan besar seperti Euclid dan Ptolemy dan sejumlah sarjana lain yang berasal dari beraneka latar belakang bangsa dan agama. Fanatisme agama tanpaknya berperan besar dalam proses kemunduran kegiatan ilmiah di Aleksandria. Sejak awal abad ke 5M, kegiatan intelektual dikota ini terus mengalami kemunduran sehingga pada saat penaklukan Islam oleh Jenderal Amrbin Al-Ash yang tersisa dari Museum Aleksandria hanyalah bagian kecil dari lembaga yang dulunya megah dilengkapi ruang-ruang belajar, perpustakaan besar, dan observatorium raksasa. Dengan mundurnya Aleksandria ditambah dengna apresiasi yang rendah terhadap kegiatan ilmiah, sejumlah besar ilmuwan meninggalkan Aleksandria dan pindah ke daerah yang berada di bawah naungan kerajaan Sasaniyah, tempat kebebasan intelektual dijamin bagi seluruh ilmuwan tanpa mempersoalkan afilasi keagamaannya.

3. Edessa, Harran, dan Nisibis
Seperti disebut terdahulu, kemunduran Aleksandria mengakibatkan eksodus ilmuwan. Di antara kota-kota yang menjadi tujuan mereka adalah Edessa dan Haran tempat kebudayaan Syiria dan yang paling dominan. Perbedaan mendasar dari kedua pusat intelektual ini adalah dominasi ilmuwan Kristen Nestoris atas Edessa, sementara Harran didominasi oleh ilmuwan non Kristen. Dari Edessa dan Harran pusat kegiatan intelektual bergeser ke kota Nissibis (masih di Mesopotamia Utara). Akademi Edessa ditutup atas perintah Kaisar Romawi pada 489 M. Menurut Nakosteen, pada paruh pertama abad ke 6M. Nisisbis mempunyai akademi pendidikan tinggi terbaik didunia. Di sinilah berlangsung proses penerjemahan besar-besaran dari bahasa Yunani dan Sansekertake dalam bahasa Pahlava (persia Lama) dan Syiria. Karya-karya yang diterjemahkan mencakup matematika, kedokteran, astronomi, dan filsafat. Proses ini melibatkan ilmuwan-ilmuwan Syiria, Yahudi, dan Persia.

4. Jundi Syapur
Sejarah Jundi Syapur konon kembali ke masa pra sejarah, ketika kota ini masih bernama Genta Sapairta (Taman nan Indah). Tetapi posisi Jundi Syapur semakin penting pada masa kekuasaan Sasaniyah, ketika Raja Syapur II (310-379 M) memperluas kota ini dan membangun sebuah lembaga pendidikan tinggi yang kemudian membuat Jundi Syapur menjadi kota intelektual terpenting di daerah kekuasaan Sasaniyah dan kerajaan Romawi. Kota-kota lain adalah Heart, Marw, dan Smarkand. Perlu diungkapkan bahwa sebelum masa Sasaniyah, bangsa Persia telah berusaha mengembangkan ilmu pengetahuan yang berasal dari Babilonia dan India terutama matematika dan musik.
Akumulasi pengetahuan dari kegiatan awal ini kemudian menjadi fondasi intelektual dari Akademi Jundi Syapur yang mencapai puncak kejayaan pada abad ke 6. Sikap memusuhi ilmu pengetahuan yang tumbuh di daerah kekuasaan Romawi dengan akibat ditutupnya berbagai pusat kegiatan ilmiah, secara langsung menguntungkan Jundi Syapur. Banyak ilmuwan Kristen dari Athena yang pindah ke Jundi Syapur dimana kebebasan ilmiah dijamin, bahkan didorong oleh para raja Sasaniyah. Kondisi ini menarik ilmuwan-ilmuwan dari berbagai daerah untuk datang ke kota ini. Meski tak mengecualikan disiplin-disiplin lain, ilmu kedokteran adalah bidang yang paling terkenal. Akademi Jundi Syapur dilengkapi dengan sebuah rumah sakit yang para dokternya mempraktikan hasil-hasil penelitian teoritis mereka.
Dalam konteks ini, kejayaan Jundi Syapur berlanjut sampai akhir abad 4-10 dan berfungsi sebagai jalur utama masuknya warisan-warisan pengetahuan dari peradaban kuno kedalam peradaban Islam. Disamping kegiatan-kegiatan dibidang filsafat dan ilmu pengetahuan, Jundi Syapur juga berperan dalam proses penerjemahan Sansekerta ke Pahlavi. Contoh paling terkenal dari kegiatan ini adalah Kalilah waDimmah yang diterjemahkan oleh Ibn Al Muqaffa.

5. India dan Timur Jauh
India dan Timur jauh mempunyai pengaruh yang lebih sedikit dan tidak langsung pada perkembangan ilmu pengetahuan dalam islam sebab letak geografisnya yang relatif jauh dari Arabia. Namun daerah ini telah membuat beberapa kemajuan ilmiah sepanjang abad 6, abad menjelang datangnya islam. India membuat kemajuan berharga di bidang matemika lewat ilmuwan yg bernama Varahamihira. Kemajuan di bidang ilmu bahasa juga terjadi di India.

Berikut adalah uraian sejarah perkembangan pendidikan islam di dunia muslim.
Akhir periode Madinah sampai dengan 4 H, fase pertama pendidikan Islam sekolah masih di masjid-masjid dan rumah-rumah dengan ciri hafalan namun sudah dikenalkan logika. Selama abad ke 5 H, selama periode khalifah ‘Abbasiyah sekolah-sekolah didirikan di kota-kota dan mulai menempati gedung-gedung besar dan mulai bergeser dari matakuliah yang bersifat spiritual ke matakuliah yang bersifat intelektual, ilmu alam dan ilmu sosial.
Berdirinya sistem madrasah justru menjadi titik balik kejayaan. Sebab madrasah dibiayai dan diprakarsai negara. Kemudian madrasah menjadi alat penguasa untuk mempertahankan doktrin-doktrin terutama oleh kerajaan Fatimah di Kairo.
Pengaruh al-Ghazali (1085-1111 M) disebut sebagai awal terjadi pemisahan ilmu agama dengan ilmu umum. Ada beberapa kota yang menjadi pusat kajian Islam di zamannya, yakni Nisyapur, Baghdad, Kairo, Damaskus, dan Jerussalem. Ada empat perguruan tinggi tertua di dunia Muslim yakni: (1) Nizhamiyah di Baghdad, (2) al-Azhar di Kairo Mesir, (3) Cordova, dan (4) Kairwan Amir Nizam al-Muluk di Maroko. Sejarah singkat masing-masing pusat studi Islam ini digambarkan sebagai berikut:
Nizhamiyah di Baghdad
Perguruan Tinggi Nizhamiyah di Baghdad berdiri pada tahun 455 H / 1063 M. Perguruan tinggi ini dilengkapi dengan perpustakaan yang terpandang kaya raya di Baghdad, yakni Bait-al-Hikmat, yang dibangun oleh al-Makmun (813-833 M). Salah seorang ulama besar yang pernah mengajar disana, adalah ahli pikir Islam terbesar Abu Hamid al-Ghazali (1058-1111 M) yang kemudian terkenal dengan sebutan imam Ghazali.
Perguruan tinggi tertua di Baghdad ini hanya sempat hidup selama hampir dua abad. Yang pada akhirnya hancur akibat penyerbuan bangsa Mongol dibawah pimpinan Hulagu Khan pada tahun 1258 M.

Al-Azhar di Kairo Mesir
Panglima Besar Juhari al-Siqili pada tahun 362 H/972 M membangun Perguruan Tinggi al-Azhar dengan kurikulum berdasarkan ajaran sekte Syiah. Pada masa pemerintahan al-Hakim Biamrillah khalifah keenam dari Daulat Fathimiah, ia pun membangun perpustakaan terbesar di al-Qahira untuk mendampingi Perguruan tinggi al-Azhar, yang diberi nama Bait-al-hikmat (Balai Ilmu Pengetahuan), seperti nama perpustakaan terbesar di Baghdad.
Pada tahun 567 H/1171 M daulat Fathimiah ditumbangkan oleh Sultan Salahuddin al-Ayyubi yang mendirikan Daulat al-Ayyubiah (1171-1269 M) dan menyatakan tunduk kembali kepada Daulat Abbasiyah di Baghdad. Kurikulum pada Perguruan Tinggi al-Azhar lantas mengalami perombakan total, dari aliran Syiah kepada aliran Sunni. Ternyata Perguruan Tinggi al-Azhar ini mampu hidup terus sampai sekarang, yakni sejak abad ke-10 M sampai abad ke-20 dan tampaknya akan tetap selama hidupnya.
Universitas al-Azhar dapat dibedakan menjadi dua periode: pertama, periode sebelum tahun 1961 dan kedua, periode setelah tahun 1961. Pada periode pertama, fakultas-fakultas yang ada sama dengan fakultas-fakultas di IAIN, sedangkan setelah tahun 1961, di universitas ini diselenggarakan fakultas-fakultas umum disamping fakultas agama.

Perguruan Tinggi Cordova
Adapun sejarah singkat Cordova dapat digambarkan demikian, bahwa ditangan daulat Ummayah semenanjung Iberia yang sejak berabad-abad terpandang daerah minus, berubah menjadi daerah yang makmur dan kaya raya. Pada masa berikutnya Cordova menjadi pusat ilmu dan kebudayaan yang gilang gemilang sepanjang Zaman Tengah. The Historians history of the World, menulis tentang perikeadaan pada masa pemerintahan Amir Abdurrahman I yang merupakan pusat intelektual di Eropa dan dikagumi kemakmurannya. Sejarah mencatat, sebagai contoh, bahwa Aelhoud dari Bath (Inggris) belajar ke Cordova pada tahun 1120 M, dan pelajaran yang dutuntutnya ialah geometri, algebra (aljabar), matematik. Gerard dari Cremonia belajar ke Toledo seperti halnya Adelhoud ke Cordova. Begitu pula tokoh-tokoh lainnya.

Kairwan Amir Nizam al-Muluk di Maroko
Perguruan tinggi ini berada di kota Fez (Afrika Barat) yang dibangun pada tahun 859 M oleh puteri seorang saudagar hartawan di kota Fez, yang berasal dari Kairwan (Tunisia). Pada tahun 305 H/918 M perguruan tinggi ini diserahkan kepada pemerintah dan sejak itu menjadi perguruan tinggi resmi, yang perluasan dan perkembangannya berada di bawah pengawasan dan pembiayaan negara. Seperti halnya Perguruan tinggi al-Azhar, perguruan tinggi Kairwan masih tetap hidup sampai kini. Diantara sekian banyak alumninya adalah pejuang nasionalis muslim terkenal.
Penyebab utama kemunduran dunia muslim khususnya di bidang ilmu pengetahuan adalah terpecahnya kekuatan politik yang digoyang oleh tentara bayaran Turki. Kemudian dalam kondisi demikian datang musuh dengan membawa bendera perang salib. Baghdad sebagai pusat ilmu pengetahuan ketika itu dihancurkan Hulaghu Khan 1258 M. Pusat-pusat studi termasuk yang dihancurkan Hulaghu.
Apa yang digambarkan diatas merupakan rekaman sejarah masa lalu, yang mungkin masih eksis sampai sekarang, tidak menutup kemungkinan itu sudah tinggal nama. Atau namanya masih eksis samapi sekarang namun kelasnya tidak sehebat masa lalu. Misal Al-Azhar yang masih eksis sampai sekarang dan muncul dua saingannya yakni Universitas Fu’ad I, yang sekarang bernama Universitas Kairo dan Universitas Syams yang merupakan pengembangan dari Darul Ulum. Kedua universitas ini mengadopsi ide-ide Muhammad ‘Abduh, sementara Universitas Al-Azhar dikenal banyak menolak pemikiran-pemikiran ‘Abduh.

PENUTUP
Sejalan dengan perjalanan sejarah muslim, ditemukan sejumlah perguruan tinggi di sejumlah negara muslim yang menawarkan program studi islam yaitu perguruan tinggi yang ada di Mesir, Universitas Teheran di Iran, Universitas Damaskus di Syria, Universitas Aligarch di India, Universitas Islam International di Malaysia. Di India ditemukan universitas yang mencontoh model Universitas Al-Azhar yakni Darul Ulum di Deoband dan lembaga pendidikan sejenis di Bereilly.
Kemudian ada pula sejumlah universitas baru yang juga menawarkan studi Islam, diantaranya adalah:
1. American University in Cairo di Mesir, Department of Arabian Studies-Islamis Art and Architecture.
2. An-Najah National University di Palestina, Faculty of Graduate Studies,
3. Center for Conversation and Preservation of Islamic Architecture Heritage di Mesir,
4. Islamic Institute for Peace and Human Development di Pakistan,
5. University of Engineering and Technology, Lahore di Pakistan, Department of Humanities and Social Sciences,
6. Jamia Millia Islamia di India, Department of Islamic Studies,
7. Selcuk University di Turkey, History of Art and Architecture,
8. Shiraz University di Iran, Department of Islamic Education,
9. University of Aleppo di Syria, Faculty of Arts and Humanities,
10. University of Khartoum di Sudan, Department of Islamic Studies.

REFERENSI
Nasution, Khoruddin, Dr., MA., Pengantar Studi Islam, Yogyakarta: ACAdeMIA + TAZZAFA. 2004.

About these ads

2 Comments »

  1. Jaw Arif Said:

    waduhwaduh anak uin sregep!ijolan Link Y mbak..Trimakasih :D


{ RSS feed for comments on this post} · { TrackBack URI }

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: